- BTN menargetkan pembiayaan 20.000 unit rumah rendah emisi tahun ini, bertumbuh hingga 200.000 unit pada 2030.
- BTN mendukung ekosistem hijau melalui kemitraan dengan startup daur ulang sampah plastik untuk material bangunan.
- Program insentif pembiayaan dan program konversi sampah menjadi pengurang cicilan KPR diluncurkan.
Suara.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membidik pembiayaan 20.000 unit rumah rendah emisi, sebelum meningkatkan skala pengembangannya hingga 200.000 unit pada 2030.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam menerapkan praktik perbankan ramah lingkungan (green banking) sekaligus mendukung agenda pengurangan emisi karbon nasional.
"Harapannya, tahun ini bisa mencapai 20.000 rumah rendah emisi, kalau bisa 30.000. Sampai tahun 2029, harapannya kita ingin membangun 150.000 unit dan sampai 2030 kita harap 200.000," ujar Setiyo seperti dikutip, Jumat (6/2/2026).
Hingga akhir 2025, BTN telah menyalurkan pembiayaan untuk pembangunan 11.000 rumah rendah emisi yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Legok di Banten, Cileungsi Kabupaten Bogor, Medan, Semarang, Cirebon, hingga Bekasi.
Program ini pertama kali diluncurkan pada kuartal IV-2024 dengan target awal 1.000 unit rumah dan berhasil tercapai dalam waktu tiga bulan.
Setiyo menjelaskan, program rumah rendah emisi BTN tidak hanya berfokus pada pembiayaan perumahan, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem industri hijau.
BTN menggandeng sejumlah startup yang memproduksi material bangunan ramah lingkungan berbahan dasar sampah plastik, seperti Rebrick, Plustik, dan Green Brick.
"Setiap produsen memiliki produk yang berbeda-beda namun mereka saling melengkapi. Dengan rumah rendah emisi ini justru kita menciptakan beberapa startup baru di bidang recycle plastik. Kami sedang mencari pengusaha di setiap pulau karena bisnis ini inklusif, jadi siapa saja bisa terlibat. Saat ini angkanya baru 11.000 (rumah rendah emisi), kalau mau mencapai jutaan tentunya perlu dukungan lebih banyak startup," kata Setiyo.
Untuk memperluas jangkauan program, BTN juga terus mendorong partisipasi developer dengan menyiapkan berbagai insentif pembiayaan. Salah satunya melalui penurunan suku bunga kredit bagi developer rumah rendah emisi yang ke depan akan distandarisasi dalam satu paket menarik.
Baca Juga: Askrindo Akselerasi Transformasi Bisnis dan Digital Demi Perkuat Ekosistem UMKM
"Bunga untuk developer rumah rendah emisi juga sudah diturunkan. Nanti akan kami standarisasi, misalnya suku bunganya bisa turun 25 basis poin. Jadi macam-macam insentifnya," ungkap Setiyo.
Selain menyasar developer, BTN turut melibatkan masyarakat melalui program “Bayar Angsuran-Mu Pakai Sampah-Mu” yang memungkinkan debitur KPR mengonversi sampah rumah tangga menjadi tabungan untuk mengurangi cicilan KPR.
"Setelah dihitung-hitung, dengan mengikuti program ini bisa mengurangi cicilan KPR sekitar 10-15% per bulannya atau sekitar Rp100.000-150.000, ini lumayan sekali untuk memberikan penghasilan tambahan bagi rumah tangga yang terlibat," beber Setiyo.
Komitmen keberlanjutan BTN juga mendapat pengakuan internasional, salah satunya dari Ratu Belanda Queen Maxima saat kunjungannya ke Indonesia pada November 2025. Pengakuan tersebut sejalan dengan capaian BTN yang meraih ESG Rating AA dari MSCI pada 2025.
Ke depan, BTN menargetkan porsi pembiayaan berkelanjutan atau ESG mencapai 60 persen dari total portofolio kredit pada 2026, naik dari sekitar 52 persen saat ini, termasuk pembiayaan rumah bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebagai bagian dari aspek sosial dalam ESG.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Bukan Dihapus, Ini Alasan 13 SPBU di Jabodetabek Tak Lagi Jual Pertalite
-
Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 9 Mei 2026: Antam Turun, UBS dan Galeri24 Stabil
-
Pertamina-Departemen Energi Amerika Serikat Bahas Penguatan Pasokan Energi & Infrastruktur Strategis
-
Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah
-
RI Bakal Gandeng UNDP Sulap 9 Kota Besar Jadi "Surga" Kendaraan Listrik
-
Sah! SIG Putuskan Tebar Dividen Rp190,8 Miliar ke Investor
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun