- Menkeu Purbaya mengantisipasi lonjakan ICP hingga $97 per barel akibat perang, yang berpotensi melampaui defisit APBN 3 persen.
- Pemerintah dapat mengambil langkah antisipasi seperti menarik pajak tambahan ekspor batu bara dan meningkatkan RKAB 2026.
- Langkah mitigasi lain meliputi penghematan belanja, pemberian stimulus ekonomi, serta efisiensi Pajak dan Bea Cukai.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan strategi Pemerintah apabila harga minyak dunia terus melonjak imbas perang Amerika Serikat vs Iran.
Berdasarkan rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Pemerintah sudah menetapkan asumsi harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 70 Dolar AS per barel.
Namun setelah perang berkecamuk, Menkeu Purbaya menyebut kalau Pemerintah sudah memperhitungkan rata-rata harga minyak dunia sebesar 97 Dolar AS per barel dalam setahun. Adapun saat ini angkanya masih 74 Dolar AS per barel.
"Kita sudah simulasi sampai 97 Dolar AS sepanjang tahun, artinya harganya lebih tinggi dari sekarang. Sekarang baru 74 Dolar AS per barel, itu kita hitung berapa defisit dan segala macam. Sudah kita antisipasi. Kalau perlu langkah apa yang kita ambil, kita ambil segera," katanya di Kantor Kementerian Keuangan, dikutip Kamis (26/3/2026).
Apabila rata-rata harga minyak dunia dalam setahun bisa 97 Dolar AS per barel, Purbaya memastikan defisit APBN bisa melebihi 3 persen. Tapi itu terjadi jika Pemerintah tidak mengambil kebijakan antisipasi.
"Defisitnya tanpa ngapa-ngapain bisa lebih 3 persen. Tapi kan tanpa ngapa-ngapain, kalau kita apa-apain akan berubah," lanjutnya.
Bendahara Negara menerangkan salah satu langkah yang bisa dilakukan Pemerintah untuk menambal defisit APBN dari kenaikan harga minyak adalah menarik pajak tambahan dari ekspor batu bara. Kedua, Pemerintah bakal meningkatkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
"Ini bisa berubah, apalagi? Masih banyak langkah yang bisa diambil," terang dia.
Ketiga, Purbaya mengaku bakal melakukan penghematan belanja Pemerintah yang sekiranya tidak perlu. Keempat, Pemerintah bisa memberikan stimulus untuk mendorong ekonomi agar pertumbuhan lebih cepat.
Baca Juga: Efek Perang Iran: Kim Jong Un Makin Yakin Nuklir Adalah Kunci Selamat
"Sehingga pendapatan pajak saya naik, juga bisa mengurangi defisitnya. Efisiensi Pajak dan Bea Cukai juga bisa meningkatkan juga. Jadi banyak langkah yang kita ambil. Jadi habis ini saya pasti sibuk nih, kasihan," paparnya.
Purbaya juga menjelaskan efisiensi anggaran Rp 81 triliun yang diungkapkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi beberapa waktu lalu. Ia menyebut angka itu diperoleh dari penyisiran Belanja Pemerintah.
"Itu belanja saja. Jadi masih banyak ruangnya kan? Anda enggak usah takut. Ini menteri lumayan pintar sebelah sini nih," kelakar Purbaya.
Di sisi lain harga minyak dunia melemah pada perdagangan Rabu (Kamis Pagi waktu Indonesia) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengindikasikan adanya proses negosiasi antara Washington dan Teheran terkait konflik yang memanas di Timur Tengah.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent patokan global turun 2,2 persen ke level USD 102,22 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga merosot 2,2 persen menjadi USD 90,32 per barel.
Pelemahan harga terjadi setelah Trump menyatakan bahwa AS tengah membuka jalur komunikasi dengan Iran. Bahkan, ia mengaku telah menarik ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
"Mereka berbicara kepada kita, dan mereka berbicara hal yang masuk akal," kata Trump.
Tag
Berita Terkait
-
Efek Perang Iran: Kim Jong Un Makin Yakin Nuklir Adalah Kunci Selamat
-
Darurat Panic Buying, Pemerintah Jepang Jamin Pasokan Tisu Aman
-
Trump Jadi Pinokio di Karikatur Media Iran: Klaim Negosiasi Damai Hanya Kebohongan Besar
-
Purbaya: Trump Jatuh Jika Minyak 150 USD per Barel, Bukan RI
-
Israel Panik! Donald Trump akan Setop Perang Meski Tanpa Deal dengan Iran
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Purbaya Sidak Pabrik Baja Asal China, Diduga Akali Pajak karena Cuma Bayar Rp 20 M
-
Bitcoin dkk Diramal Bisa Jadi Sistem Finansial Alternatif RI Dalam Waktu 3 Tahun
-
5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar
-
Delapan Klaster Program Prioritas Nasional di 2027
-
Bahlil Minta Lebih Banyak Lahan untuk Sawit demi Ambisi B80
-
Bahlil Stop Ekspor Batu Bara Usai PLN Kekurangan Pasokan
-
Sandiaga Uno Suntik Modal MUTU, Pasar Karbon RI Jadi Incaran
-
Jasa Marga Tingkatkan Komitmen Pengelolaan Green Toll Road dan Transformasi Rest Area Berkelanjutan
-
LPS Naikkan Bunga Penjaminan Simpanan Rupiah, Kini Tembus 3,75%
-
Toko Online Wajib Punya NIB, Termasuk Penjual Barang Bekas: Ini Ketentuannya