- Laba bersih Medco Energi (MEDC) 2025 anjlok 72% dari USD 367 juta menjadi USD 100 juta.
- Beban utang membengkak jadi USD 3,64 miliar akibat akuisisi FPSO Marlin dan proyek ekspansi.
- Kinerja tertekan harga komoditas dan kontribusi Amman Mineral yang lebih rendah dari sebelumnya.
Suara.com - Awan mendung menyelimuti kinerja keuangan raksasa energi milik keluarga Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Emiten migas ini harus menelan pil pahit setelah membukukan penurunan laba bersih yang sangat drastis sepanjang tahun buku 2025.
Berdasarkan laporan resminya, Kamis (2/4/2026), laba bersih Medco anjlok hingga 72,7 persen menjadi hanya USD 100 juta. Padahal pada periode 2024, perusahaan masih mampu mencatatkan keuntungan sebesar USD 367 juta. Kejatuhan laba yang sangat dalam ini menjadi sinyal merah bagi efisiensi operasional perusahaan di tengah tekanan pasar global.
Manajemen Medco berdalih bahwa merosotnya laba ini dipicu oleh sejumlah faktor krusial. Salah satunya adalah kontribusi yang lebih rendah dari Amman Mineral Internasional, yang selama ini menjadi "mesin uang" bagi grup. Selain itu, kinerja perusahaan terbebani oleh penurunan nilai aset non-kas dan kegagalan pengeboran alias dry hole di PSC Beluga.
Kondisi eksternal pun tak berpihak. Harga minyak rata-rata meluncur 15 persen dari USD 78 per barel menjadi USD 67 per barel. Setali tiga uang, harga gas juga melemah dari USD 7,0 ke posisi USD 6,8 per mmbtu.
Di balik amblesnya laba, profil risiko Medco tampak kian meningkat seiring dengan membengkaknya total utang konsolidasi. Tercatat, utang perusahaan melonjak menjadi USD 3.646 juta.
Kenaikan utang ini berimbas pada rasio utang bersih terhadap EBITDA di segmen migas yang merayap naik ke angka 2,0x, dibandingkan posisi 1,8x pada tahun sebelumnya. Tak hanya itu, posisi kas atau likuiditas perusahaan juga terpantau mulai terkikis dari USD 697 juta menjadi USD 633 juta pada akhir 2025.
Meski laba bersih terjun bebas, CEO Medco Energi Roberto Lorato justru mengklaim kinerja perusahaan tetap "kuat". Ia membanggakan rekor imbal hasil pemegang saham sebesar 27 persen dan pengembalian dana sebesar USD 110 juta.
"Total imbal hasil pemegang saham tahunan mencapai rekor 27 persen... seiring tercapainya target produksi Minyak & Gas sebesar 156 mboepd," ujar Roberto dalam keterangan tertulisnya.
Namun, pengamat pasar modal menilai strategi manajemen yang menaikkan dividen sebesar 19 persen menjadi Rp53,4 per saham di tengah anjloknya laba bersih adalah langkah yang cukup berisiko bagi struktur permodalan jangka panjang perusahaan, terutama saat beban utang terus menumpuk untuk mendanai berbagai proyek akuisisi dan ekspansi.
Baca Juga: Perbankan Berbondong-bondong Beri Kredit Triliunan Rupiah ke Program MBG
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita
-
Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru
-
Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun
-
PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025
-
CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai
-
BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
-
Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026
-
PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen
-
Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun
-
Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara