Bisnis / Inspiratif
Rabu, 06 Mei 2026 | 07:27 WIB
Maskot Mixue dan Bingxue. (Kolase)
Baca 10 detik
  • Mixue didirikan Zhang Hong Chao tahun 1997, sedangkan Bingxue didirikan Jinan Baodao tahun 2014.
  • Kedua merek tersebut merupakan entitas bisnis berbeda dengan identitas visual, maskot, serta strategi produk yang unik.
  • Mixue menutup ratusan gerai internasional pada tahun 2025 demi efisiensi bisnis, namun perusahaan tetap mencatatkan kenaikan laba.

Produk unggulan mereka seperti es krim vanilla dan fresh lemonade menjadi daya tarik utama.

Bingxue, di sisi lain, sering mempromosikan keragaman menu yang menyertakan kopi dalam lini produk utamanya.

Dengan slogan yang menekankan pada kualitas global, Bingxue berusaha memposisikan diri sebagai alternatif yang menawarkan variasi rasa yang berbeda namun tetap di rentang harga yang kompetitif bagi masyarakat luas.

Kesimpulannya, Mixue dan Bingxue bukan berasal dari satu perusahaan yang sama.

Kemiripan nama mereka berasal dari penggunaan kata mandarin "Bing" (es) dan "Xue" (salju) yang merupakan kata umum untuk bisnis minuman dingin di Cina.

Mixue adalah sang pelopor dengan sejarah panjang sejak 1997, sedangkan Bingxue adalah penantang kuat yang tumbuh pesat sejak 2014.

Sebagai konsumen, kita kini memiliki lebih banyak pilihan untuk menikmati camilan manis berkualitas tanpa harus menguras kantong.

Mixue Tutup Ratusan Gerai 

Mixue resmi masuk ke Indonesia pada tahun 2020. Gerai pertamanya berlokasi di Cihampelas Walk (Ciwalk), Kota Bandung, Jawa Barat.

Setelahnya, perusahaan ini berkembang pesat di seluruh Indonesia hingga ribuan gerai.

Baca Juga: Bisnis Mixue Hadir di Amerika Serikat, Netizen: McDonald's Ketar-ketir?

Tetapi setelah ekspansi yang luar biasa masif, Mixue menutup ratusan gerai sepanjang tahun 2025 di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dalam laporan keuangan terbarunya, perusahaan mencatat jumlah gerai internasional Mixue menyusut total 428 unit sepanjang tahun 2025.

Penurunan itu terjadi ketika Mixue mulai operasional bisnis waralaba di luar China serta menyeleksi gerai-gerai yang dinilai kurang efisien.

Meski jumlah tokonya menyusut, pendapatan perusahaan ini justru melonjak. Tahun lalu mereka mencatatkan pendapatan naik mencapai 35 persen menjadi 33,56 miliar yuan atau sekitar Rp84,92 triliun. Begitu pula dengan laba bersih yang naik 33 persen menjadi 5,93 miliar yuan atau sekitar Rp14,98 triliun.

Load More