- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.382 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 8 Mei 2026.
- Pelemahan rupiah terjadi seiring tren negatif mayoritas mata uang di Asia akibat penguatan indeks dolar AS.
- Gejolak geopolitik di Timur Tengah serta penurunan cadangan devisa Indonesia menjadi faktor utama tekanan terhadap nilai rupiah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah meloyo pada penutupan, Jumat, 8 Mei 2026. Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melempem ke level Rp 17.382 per dolar AS.
Rupiah tercatat turun 49 poin atau melemah 0,28 persen dibandingkan penutupan Kamis yang berada di level Rp 17.333.
Kondisi serupa juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) di level Rp 17.375 per dolar AS.
Pelemahan rupiah hari ini sejalan dengan tren zona merah yang melanda beberapa mayoritas mata uang di Asia. Salah satunya, adalah won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,84 persen.
Lalu, disusul ringgit Malaysia yang melemah 0,36 persen. Kemudian, rupee India melemah 0,32 persen, peso Filipina melemah 0,08 persen dan yuan China melemah 0,04 persen.
Sedangkan, beberapa mata uang Asia lainnya justru perkasa terhadap dolar AS. Misalnya, Baht Thailand menguat 0,09 persen, dolar Taiwan menguat 0,07 persen, dolar Hong Kong menguat 0,06 persen dan yen Jepang yang menguat 0,02 persen
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 98,23, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 98,06.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah didorong oleh dua faktor. Faktor pertama dari kondisi Timur Tengah yang kembali memanas.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS oleh kekuatiran terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah setelah terjadi insiden baku tembak antara kapal AS dan Iran," katanya saat dihubungi Suara.com.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Sumber Dana Bond Stabilization Fund Demi Perkuat Nilai Tukar Rupiah
Lalu faktor kedua dipengaruhi oleh Cadangan Devisa Indonesia (Cadev) yang mengalami penurunan. Hal itu membuat investor khawatir terhadap ekonomi Indonesia
"Data yang menunjukkan cadev Indonesia kembali turun juga ikut menekan rupiah. Posisi rupiah kedepan akan tergantung pada respon Iran terhadap proposal damai AS yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat ini," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Ada Apa dengan IHSG Hari Ini, Ambruk 2% hingga 607 Saham Merah
-
UMKM Mitra Binaan Pertamina Mengudara, Kini Menjangkau Penumpang Pesawat Pelita Air
-
Ambisi Prabowo-Bahlil: Alirkan Listrik Lintas Negara ke Wilayah 3T
-
Pemerintah Indonesia dan Filipina Sepakat Kerja Sama Hilirisasi Industri Nikel
-
Jumlah Armada Taksi Bluebird Tembus 26 Ribu Setelah 54 Tahun Berdiri
-
Investigasi Kemenhub Ungkap Bus ALS Tak Miliki Izin Operasi
-
Emiten PSGO Raup Pendapatan Tembus Rp2,55 Triliun, Ini Pendorongnya
-
Pembiaran Impor Baja China Akan Picu Gelombang PHK di Indonesia
-
Pertamina - Badan Gizi Nasional Bersinergi Menjadikan Minyak Jelantah sebagai Bahan Bakar Pesawat
-
Pertamina Jajaki Penguatan Kerja Sama dengan EOG Resources untuk Dorong Peningkatan Produksi Migas