- Rupiah melemah ke Rp17.528 per dolar AS, picu kenaikan harga laptop dan komponen mulai Juni 2026.
- Harga ponsel termurah naik dari Rp1,2 juta ke Rp1,6 juta akibat tren harga yang terus melonjak.
- Penjualan turun 10%, pedagang siasati dengan promo, bonus gratis, dan fokus jual aksesoris.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026) sore, rupiah terperosok hingga menyentuh level Rp17.528 per dolar AS. Kondisi ini mulai memicu kekhawatiran di kalangan pedagang elektronik, salah satunya di Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta Selatan.
Nauvan (38), seorang pedagang laptop, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung pada biaya produksi dan harga jual karena kenaikan harga komponen seperti RAM dan SSD.
Dirinya memprediksi lonjakan harga laptop dan PC akan mulai terasa signifikan pada awal Juni mendatang. Situasi ini menjadi tantangan berat mengingat angka penjualan komputer sendiri sudah mengalami penurunan sekitar 10 persen.
Untuk menyiasati lesunya pasar, Nauvan mengandalkan paket promosi dan pemberian bonus (freebies) baik secara offline maupun melalui e-commerce guna meringankan beban konsumen.
Kenaikan harga juga merembet ke sektor ponsel pintar. Rika (35), staf toko seluler, menyebutkan bahwa ponsel kategori low-end yang dulu dibanderol Rp1,2 juta kini sudah hilang dari pasaran dan naik menjadi minimal Rp1,6 juta. Untuk menjaga perputaran uang di tengah penurunan penjualan ponsel, Rika kini mengoptimalkan penjualan aksesoris.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan performa negatif pada perdagangan Selasa sore (12/5/2026). Mata uang Garuda kian terpuruk hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.500 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah signifikan ke level Rp17.529 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 115 poin atau koreksi 0,66 persen dibandingkan penutupan hari Senin yang berada di level Rp17.414.
Kondisi serupa juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), di mana rupiah ditetapkan pada level Rp17.514 per dolar AS. Pelemahan ini membuat nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dan mata uang regional dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta ketidakpastian geopolitik.
Baca Juga: Gegara Pelemahan Rupiah, Harga AC dan TV Langsung Naik
"Rupiah melemah merespons semakin redupnya harapan perdamaian antara AS dan Iran," ujar Lukman. Selain itu, sentimen risk-off di pasar ekuitas domestik akibat antisipasi pengumuman MSCI serta data penjualan ritel Indonesia yang lebih rendah dari ekspektasi turut memperparah tekanan.
Saat ini, pasar tengah bersikap wait and see menantikan rilis data inflasi AS serta pertemuan penting antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump. "Belum ada katalis positif bagi rupiah, namun penguatan bisa terjadi jika BI melakukan intervensi agresif. Proyeksi berada di rentang Rp17.450 hingga Rp17.600," tambahnya.
Pelemahan ini tidak dialami rupiah sendirian. Mayoritas mata uang Asia juga memerah, dengan won Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 1,11 persen, diikuti peso Filipina (0,56%), rupee India (0,43%), dan baht Thailand (0,39%).
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Paradoks Beras: Stok Melimpah 5,19 Juta Ton, Harga di 105 Daerah Masih Melonjak
-
Rupiah Tembus di Rp17.500, Pedagang Elektronik: Harga Sudah Naik 5 Persen
-
Siap-siap! Dana Rp 31,5 Triliun Bakal Hilang dari Pasar Modal RI
-
RI Bakal Punya Pusat Riset Timah di Bangka
-
Gegara Pelemahan Rupiah, Harga AC dan TV Langsung Naik
-
Pegadaian Semarang Luncurkan BCC 2026 di UNNES, Lebih dari 1.000 Mahasiswa Hadir
-
Rupiah Cetak Rekor Terlemah, IHSG Ditutup Merah Lagi
-
Purbaya Siap Jelaskan ke DPR soal Rupiah Lemah, Tegaskan Itu Tanggung Jawab BI
-
Jelang Rebalancing MSCI, Emiten Sinarmas DSSA Ditinggal Kabur Investor Asing
-
Telkom Bukukan Kinerja Resilience pada FY25, Hasilkan Total Shareholder Return 35,7%