Bisnis / Keuangan
Selasa, 12 Mei 2026 | 18:58 WIB
Rupiah Tembus Rp17.528, Harga Laptop dan Ponsel di Mall Ambasador Terancam Melonjak. Foto Yaumal-Suara.com
Baca 10 detik
  • Rupiah melemah ke Rp17.528 per dolar AS, picu kenaikan harga laptop dan komponen mulai Juni 2026.
  • Harga ponsel termurah naik dari Rp1,2 juta ke Rp1,6 juta akibat tren harga yang terus melonjak.
  • Penjualan turun 10%, pedagang siasati dengan promo, bonus gratis, dan fokus jual aksesoris.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026) sore, rupiah terperosok hingga menyentuh level Rp17.528 per dolar AS. Kondisi ini mulai memicu kekhawatiran di kalangan pedagang elektronik, salah satunya di Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta Selatan.

Nauvan (38), seorang pedagang laptop, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung pada biaya produksi dan harga jual karena kenaikan harga komponen seperti RAM dan SSD.

Dirinya memprediksi lonjakan harga laptop dan PC akan mulai terasa signifikan pada awal Juni mendatang. Situasi ini menjadi tantangan berat mengingat angka penjualan komputer sendiri sudah mengalami penurunan sekitar 10 persen.

Untuk menyiasati lesunya pasar, Nauvan mengandalkan paket promosi dan pemberian bonus (freebies) baik secara offline maupun melalui e-commerce guna meringankan beban konsumen.

Kenaikan harga juga merembet ke sektor ponsel pintar. Rika (35), staf toko seluler, menyebutkan bahwa ponsel kategori low-end yang dulu dibanderol Rp1,2 juta kini sudah hilang dari pasaran dan naik menjadi minimal Rp1,6 juta. Untuk menjaga perputaran uang di tengah penurunan penjualan ponsel, Rika kini mengoptimalkan penjualan aksesoris.

Rupiah Tembus Rp17.528, Harga Laptop dan Ponsel di Mall Ambasador Terancam Melonjak. Foto Yaumal-Suara.com

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan performa negatif pada perdagangan Selasa sore (12/5/2026). Mata uang Garuda kian terpuruk hingga menembus level psikologis baru di angka Rp17.500 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah signifikan ke level Rp17.529 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 115 poin atau koreksi 0,66 persen dibandingkan penutupan hari Senin yang berada di level Rp17.414.

Kondisi serupa juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), di mana rupiah ditetapkan pada level Rp17.514 per dolar AS. Pelemahan ini membuat nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dan mata uang regional dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta ketidakpastian geopolitik.

Baca Juga: Gegara Pelemahan Rupiah, Harga AC dan TV Langsung Naik

"Rupiah melemah merespons semakin redupnya harapan perdamaian antara AS dan Iran," ujar Lukman. Selain itu, sentimen risk-off di pasar ekuitas domestik akibat antisipasi pengumuman MSCI serta data penjualan ritel Indonesia yang lebih rendah dari ekspektasi turut memperparah tekanan.

Saat ini, pasar tengah bersikap wait and see menantikan rilis data inflasi AS serta pertemuan penting antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump. "Belum ada katalis positif bagi rupiah, namun penguatan bisa terjadi jika BI melakukan intervensi agresif. Proyeksi berada di rentang Rp17.450 hingga Rp17.600," tambahnya.

Pelemahan ini tidak dialami rupiah sendirian. Mayoritas mata uang Asia juga memerah, dengan won Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 1,11 persen, diikuti peso Filipina (0,56%), rupee India (0,43%), dan baht Thailand (0,39%).

Load More