Bisnis / Makro
Selasa, 12 Mei 2026 | 10:59 WIB
Aktivitas pedagang di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Selasa (2/10). [Suara.com/Muhaimin A Untung]
Baca 10 detik
  • Rupiah cetak rekor terburuk tembus Rp17.501 per dolar AS akibat sentimen negatif MSCI.
  • Harga pangan nasional kompak melonjak, cabai rawit merah tembus Rp68.650 per kilogram.
  • Aliran modal asing keluar deras dan harga beras naik, daya beli masyarakat kian terancam.

Suara.com - Awan mendung menyelimuti perekonomian domestik pada Selasa pagi (12/5/2026). Mata uang Garuda kembali tak bertenaga dan mencetak rekor sejarah baru yang kelam. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level Rp17.501 per dolar AS, merosot 87 poin atau 0,50 persen dari penutupan sebelumnya.

Kondisi ini selaras dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang menetapkan posisi rupiah di angka Rp17.415. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa pelemahan tajam ini merupakan imbas dari sentimen negatif pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

"Pengumuman MSCI memicu aliran modal asing keluar (outflow) yang cukup deras. Investor cenderung menghindari aset berisiko di pasar domestik, yang pada akhirnya menekan nilai tukar kita secara signifikan," ujar Lukman.

Ironisnya, kejatuhan nilai tukar rupiah ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga komoditas pangan nasional. Berdasarkan data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan PIHPS Bank Indonesia, hampir seluruh kebutuhan pokok kompak merangkak naik, menciptakan tekanan ganda bagi daya beli masyarakat.

Harga beras, sebagai komoditas utama, mengalami kenaikan di semua lini. Beras kualitas super I kini menyentuh Rp16.950 per kg, sementara beras kualitas bawah naik hingga 3,1 persen menjadi Rp14.950 per kg.

Sektor bumbu dapur pun tak kalah "pedas". Cabai rawit merah melonjak tajam 7,52 persen ke angka Rp68.650 per kg, sementara cabai rawit hijau meroket hampir 11 persen di harga Rp54.150 per kg. Bawang merah dan bawang putih juga ikut menyumbang inflasi dengan kenaikan rata-rata di atas 1-2 persen.

Tak hanya beras dan cabai, harga gula pasir lokal kini menembus Rp19.250 per kg dan minyak goreng curah merangkak naik ke level Rp20.800 per kg. Telur ayam ras pun turut membebani konsumen dengan harga Rp31.350 per kg.

Kombinasi antara pelemahan kurs rupiah yang menambah biaya impor (imported inflation) dan kenaikan harga pangan lokal ini menjadi alarm keras bagi stabilitas ekonomi nasional di pertengahan Mei 2026 ini. Jika arus modal asing terus keluar dan harga pangan tak segera terkendali, tekanan terhadap kesejahteraan masyarakat diprediksi akan semakin dalam.

Baca Juga: Rekor Buruk, Rupiah Sentuh Level Rp17.500 per Dolar AS

Load More