- Ibrahim Assuaibi memprediksi harga minyak WTI pekan depan akan bergerak fluktuatif di rentang US$91,600 hingga US$110,600 per barel.
- Eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan keamanan jalur distribusi di Selat Hormuz menjadi pemicu utama potensi kenaikan harga minyak.
- Upaya diplomasi AS terkait Selat Hormuz serta hubungan dagang AS-Tiongkok diproyeksikan akan memengaruhi stabilitas harga komoditas energi global tersebut.
Suara.com - Grafik harga minyak mentah dunia diperkirakan masih berpotensi melanjutkan tren kenaikan tajam pada perdagangan pekan depan. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan komoditas energi global ini akan diselimuti volatilitas tinggi, terpengaruh langsung oleh eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta perkembangan negosiasi pengamanan jalur maritim di Selat Hormuz.
Secara teknikal, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) diproyeksikan akan bergerak melebar dengan rentang batas bawah (support) di level US$91,600 per barel dan batas atas (*resistance*) yang cukup tinggi di level US$110,600 per barel.
“Kemudian untuk WTI crude oil, dalam perdagangan minggu depan pun juga kemungkinan besar support-nya di 91.600, kemudian resistance-nya di 110.600,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (17/5/2026).
Ibrahim menjelaskan bahwa lebarnya rentang target tersebut mencerminkan kuatnya tekanan sentimen dari sisi kepastian pasokan serta keamanan jalur distribusi logistik global.
Selama riak politik di Timur Tengah belum menemui titik temu, ruang bagi komoditas minyak untuk merangkak naik tetap terbuka lebar.
“Artinya apa? Harga minyak, indeks dolar, ini masih akan menguat, ya, di minggu depan. Nanti ada apa, nanti akan lihat di fundamentalnya,” jelas Ibrahim.
Faktor utama yang kini memegang kendali paling sensitif bagi pergerakan harga energi adalah stabilitas di Selat Hormuz. Selat strategis ini merupakan jalur nadi distribusi komoditas minyak mentah dunia.
Konsekuensinya, setiap gesekan politik yang melibatkan kekuatan militer Iran, Amerika Serikat, beserta sekutu regionalnya akan langsung berdampak instan terhadap pasokan pasar.
Saat ini, fokus para pelaku pasar global tertuju pada upaya diplomasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tengah mengupayakan kesepakatan kolektif guna mengamankan jalur logistik tersebut.
Baca Juga: 3 Kapal Tanker Raksasa 'Bebas' Lewati Selat Hormuz Hari Ini, Pertanda Baik?
“Trump sendiri bolak-balik ingin adanya kesepakatan. Bukan kesepakatan sepihak, tapi kesepakatan bersama untuk apa? Membuka Selat Hormuz,” ucapnya.
Manajemen risiko di pasar uang mencatat, jika konsensus politik internasional berhasil mengembalikan stabilitas di Selat Hormuz, volatilitas harga minyak mentah perlahan akan melandai.
Sebaliknya, apabila tensi di lapangan justru meruncing—terutama dengan adanya risiko perluasan konflik langsung antara Iran dan Israel—maka potensi lonjakan harga energi ke tingkat tertinggi baru sulit untuk dihindari akibat ancaman terhentinya rantai pasok.
Di luar isu keamanan Timur Tengah, dinamika hubungan dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia, yakni Amerika Serikat dan Tiongkok, turut andil menjadi katalis pendukung pasar.
Tanda-tanda membaiknya hubungan bilateral pasca-pertemuan bilateral antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping diharapkan dapat memicu solusi yang saling menguntungkan (win-win solution) bagi stabilitas makro.
Jika kesepakatan dagang tersebut berjalan mulus dan Tiongkok meningkatkan volume penyerapan komoditas energi dari AS, sisi permintaan (demand) global dipastikan akan menguat secara signifikan.
Berita Terkait
-
Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!
-
Kesabaran Trump ke Iran Habis, Harga Minyak Naik Lagi
-
Apa Hasil Lawatan Trump ke China? Isu Taiwan Menggantung, Beijing Tetap Dukung Iran
-
India Akhirnya Naikkan Harga BBM Setelah 4 Tahun Bertahan
-
Libur Panjang Justru Jadi Petaka Bagi Rupiah
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
BRI Terapkan Aturan Baru Rekening 2026: Ini Beda Status Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant
-
Cara Cek NIK Penerima Bansos Kemensos Usai Update dari DTKS Jadi DTSEN
-
Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit dan Daging Ayam Naik, Beras Premium Tetap Tinggi
-
3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS
-
IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi
-
Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?
-
Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia
-
IHSG Libur 4 Hari, Senin Besok Dihantui Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Investor
-
Percepat Akselerasi KEK di Indonesia, Wahyu Agung Group Jalani MOU dengan Perusahaan China