Bisnis / Energi
Sabtu, 16 Mei 2026 | 12:48 WIB
Presiden AS Donald Trump, melontarkan pernyataan keras bahwa kesabarannya dalam menghadapi Iran sudah mulai menipis. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent naik jadi US$ 108,25 & WTI US$ 103,76 per barel akibat tensi geopolitik.
  • Trump sebut kesabarannya habis terhadap Iran karena kesepakatan damai yang buntu.
  • AS klaim China bantu buka Selat Hormuz, meski Beijing tetap dorong jalur diplomasi.

Suara.com - Pasar energi global kembali bergejolak. Harga minyak mentah dunia mencatatkan kenaikan tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan pernyataan keras bahwa kesabarannya dalam menghadapi Iran sudah mulai menipis.

Situasi ini kian diperparah oleh kekhawatiran pasar atas ancaman serangan dan penerapan tarif sepihak di sekitar Selat Hormuz, jalur tikus pasokan minyak mentah dunia.

Mengutip laporan CNBC, Sabtu (16/5/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan global melonjak lebih dari 2% hingga menyentuh US$ 108,25 per barel pada penutupan perdagangan Jumat (15/5). Setali tiga uang, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni juga terkerek naik lebih dari 2% ke level US$ 103,76 per barel.

Lonjakan harga ini dipicu oleh wawancara Trump dengan Fox News pada Kamis (14/5) malam waktu setempat. Trump blak-blakan mengaku frustrasi karena kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik kedua negara tak kunjung menemui titik terang.

"Saya tidak akan lebih sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan," tegas Trump.

Menariknya, Trump mengklaim telah mengantongi dukungan dari Presiden China, Xi Jinping. Menurut Trump, Beijing sepakat bahwa Selat Hormuz harus segera dibuka kembali bebas hambatan. China bahkan disebut-sebut setuju untuk menyetop pasokan peralatan militer ke Iran.

"Presiden China tidak menyukai fakta bahwa Iran mengenakan biaya tol kepada kapal-kapal yang melintasi Hormuz," tambah Trump.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, turut mengonfirmasi bahwa China tengah bergerak di balik layar. Bagaimanapun, stabilitas Selat Hormuz sangat krusial bagi arus dagang dan pasokan energi Negeri Tirai Bambu tersebut.

Meski AS mengeklaim adanya kesepahaman, pemerintah China memilih bersikap diplomatis di depan publik. Kementerian Luar Negeri China tidak secara eksplisit mendukung AS, melainkan memperingatkan bahwa penggunaan militer hanya akan membawa jalan buntu.

Baca Juga: Tepis Isu RI Bakal 'Collapse', Prabowo: Rakyat di Desa Nggak Pakai Dolar, Indonesia Masih Oke!

"Menemukan cara untuk menyelesaikan situasi ini secepat mungkin adalah kepentingan bukan hanya bagi AS dan Iran, tetapi juga negara-negara regional dan seluruh dunia," ujar juru bicara Kemenlu China, menekankan pentingnya jalur negosiasi.

Load More