- Harga minyak Brent naik jadi US$ 108,25 & WTI US$ 103,76 per barel akibat tensi geopolitik.
- Trump sebut kesabarannya habis terhadap Iran karena kesepakatan damai yang buntu.
- AS klaim China bantu buka Selat Hormuz, meski Beijing tetap dorong jalur diplomasi.
Suara.com - Pasar energi global kembali bergejolak. Harga minyak mentah dunia mencatatkan kenaikan tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan pernyataan keras bahwa kesabarannya dalam menghadapi Iran sudah mulai menipis.
Situasi ini kian diperparah oleh kekhawatiran pasar atas ancaman serangan dan penerapan tarif sepihak di sekitar Selat Hormuz, jalur tikus pasokan minyak mentah dunia.
Mengutip laporan CNBC, Sabtu (16/5/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan global melonjak lebih dari 2% hingga menyentuh US$ 108,25 per barel pada penutupan perdagangan Jumat (15/5). Setali tiga uang, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni juga terkerek naik lebih dari 2% ke level US$ 103,76 per barel.
Lonjakan harga ini dipicu oleh wawancara Trump dengan Fox News pada Kamis (14/5) malam waktu setempat. Trump blak-blakan mengaku frustrasi karena kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik kedua negara tak kunjung menemui titik terang.
"Saya tidak akan lebih sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan," tegas Trump.
Menariknya, Trump mengklaim telah mengantongi dukungan dari Presiden China, Xi Jinping. Menurut Trump, Beijing sepakat bahwa Selat Hormuz harus segera dibuka kembali bebas hambatan. China bahkan disebut-sebut setuju untuk menyetop pasokan peralatan militer ke Iran.
"Presiden China tidak menyukai fakta bahwa Iran mengenakan biaya tol kepada kapal-kapal yang melintasi Hormuz," tambah Trump.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, turut mengonfirmasi bahwa China tengah bergerak di balik layar. Bagaimanapun, stabilitas Selat Hormuz sangat krusial bagi arus dagang dan pasokan energi Negeri Tirai Bambu tersebut.
Meski AS mengeklaim adanya kesepahaman, pemerintah China memilih bersikap diplomatis di depan publik. Kementerian Luar Negeri China tidak secara eksplisit mendukung AS, melainkan memperingatkan bahwa penggunaan militer hanya akan membawa jalan buntu.
Baca Juga: Tepis Isu RI Bakal 'Collapse', Prabowo: Rakyat di Desa Nggak Pakai Dolar, Indonesia Masih Oke!
"Menemukan cara untuk menyelesaikan situasi ini secepat mungkin adalah kepentingan bukan hanya bagi AS dan Iran, tetapi juga negara-negara regional dan seluruh dunia," ujar juru bicara Kemenlu China, menekankan pentingnya jalur negosiasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Berlaku Besok, IESR Ungkap Bahayanya Penerapan B50
-
J Trust Bank (BCIC) Rombak Jajaran Direksi
-
Insentif Mobil Listrik Tak Kunjung Jelas, Kemenperin Khawatir Penjualan Tertahan
-
Target Swasembada Garam 2027 Dinilai Sulit Tercapai Tanpa Reformasi Impor
-
BUMN Logistik Baru Mulai Terbentuk, Merger dari 7 Perusahan
-
Vonis Nadiem Makarim Jadi Sorotan Media Internasional: Investor Asing Semakin Tak Percaya
-
Tujuh BUMN Logistik Resmi Melebur di bawah PT Multi Terminal Indonesia
-
Dilema B50 vs Ekspor CPO, Kebijakan Ini Bisa Jadi Pedang Bermata Dua?
-
Pemadaman Listrik Hambat Industri Manufaktur di Juni 2026
-
Brantas Abipraya Percepat Penyelesaian Sekolah Rakyat Kabupaten Bogor, Dukung Pemerataan Pendidikan