Bisnis / Energi
Jum'at, 15 Mei 2026 | 17:32 WIB
Ilustrasi harga bbm naik. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Harga BBM India naik 3 rupee per liter akibat perang Iran dan krisis Selat Hormuz.
  • Ini kenaikan BBM pertama dalam 4 tahun karena kilang negara terus merugi.
  • PM Modi serukan hemat devisa: stop beli emas hingga kurangi minyak goreng.

Suara.com - Tekanan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah akhirnya meruntuhkan pertahanan ekonomi India. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, perusahaan minyak milik negara India resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin dan solar sebesar 3 rupee (sekitar USD 0,03) per liter, atau melonjak lebih dari 3%.

Langkah krusial ini diambil menyusul gangguan pasokan energi global yang dipicu oleh perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Konflik bersenjata tersebut telah mencekik jalur distribusi vital di Selat Hormuz, tempat di mana India biasanya menggantungkan separuh dari total pasokan minyak mentahnya. Akibatnya, harga minyak mentah dunia melesat tajam dari kisaran USD 70 menjadi USD 126 per barel.

Melansir laporan France24, Jumat (15/5/2026), perusahaan minyak domestik India mengaku tidak mampu lagi menahan hantaman kerugian akibat lonjakan harga minyak mentah global. Sebagai importir dan konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, India menjadi salah satu negara ekonomi besar terakhir yang menyerah pada keadaan dan terpaksa membebankan kenaikan biaya kepada konsumen.

Besaran kenaikan harga ini bervariasi di setiap wilayah karena perbedaan pajak lokal. Berdasarkan data dari Indian Oil Corporation, di ibu kota New Delhi, harga bensin merangkak naik dari 94,77 rupee menjadi 97,77 rupee (USD 1,02) per liter. Sementara itu, solar naik dari 87,67 rupee menjadi 90,67 rupee per liter. Sebelum kebijakan ini, pemerintah India juga telah mengerek harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang menjadi bahan bakar dapur utama jutaan rumah tangga di sana.

Kebijakan menaikkan harga BBM ini berjalan beriringan dengan langkah penghematan (austerity) ekstrem yang dicanangkan pemerintah demi menekan konsumsi bahan bakar dan menyelamatkan cadangan devisa negara. Guna menambal kelangkaan pasokan dari Timur Tengah, India sebenarnya telah mendiversifikasi sumber energinya dengan menggenjot impor minyak mentah dari Rusia. Namun, kapasitas tersebut masih belum cukup membendung pembengkakan biaya impor.

Sadar akan ancaman krisis yang mengintai negeri dengan 1,4 miliar penduduk tersebut, Perdana Menteri Narendra Modi mengambil langkah tidak biasa. Melalui pidatonya yang dilansir dari abc.net.au, PM Modi menyerukan gerakan penghematan devisa besar-besaran yang ia sebut sebagai tindakan "sehat dan patriotik".

PM Modi meminta warganya melakukan pengorbanan kolektif, di antaranya menyetop pembelian emas selama satu tahun (India merupakan salah satu importir emas terbesar dunia), memaksimalkan sistem Bekerja dari Rumah (WFH), membatasi perjalanan non-esensial, serta beralih ke transportasi umum atau berbagi kendaraan (car-pooling), mempercepat transisi ke kendaraan listrik dan mengimbau para petani memangkas separuh penggunaan pupuk kimia, serta meminta tingkat rumah tangga mengurangi konsumsi minyak goreng.

"Dalam situasi saat ini, kita harus sangat menekankan penghematan devisa," tegas Modi.

Hingga saat ini, India masih sangat rentan terhadap guncangan geopolitik energi karena harus mengimpor sekitar 85 persen dari total kebutuhan minyak mentah domestiknya. Kenaikan harga BBM pertama dalam 4 tahun ini menjadi sinyal kuat bahwa lanskap ekonomi Asia Selatan sedang bersiap menghadapi masa-masa sulit akibat perang di Asia Barat.

Baca Juga: Tembus Rp17.600, BI Dikabarkan Mulai Kehabisan Amunisi Kuatkan Rupiah

Load More