- Harga BBM India naik 3 rupee per liter akibat perang Iran dan krisis Selat Hormuz.
- Ini kenaikan BBM pertama dalam 4 tahun karena kilang negara terus merugi.
- PM Modi serukan hemat devisa: stop beli emas hingga kurangi minyak goreng.
Suara.com - Tekanan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah akhirnya meruntuhkan pertahanan ekonomi India. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, perusahaan minyak milik negara India resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin dan solar sebesar 3 rupee (sekitar USD 0,03) per liter, atau melonjak lebih dari 3%.
Langkah krusial ini diambil menyusul gangguan pasokan energi global yang dipicu oleh perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Konflik bersenjata tersebut telah mencekik jalur distribusi vital di Selat Hormuz, tempat di mana India biasanya menggantungkan separuh dari total pasokan minyak mentahnya. Akibatnya, harga minyak mentah dunia melesat tajam dari kisaran USD 70 menjadi USD 126 per barel.
Melansir laporan France24, Jumat (15/5/2026), perusahaan minyak domestik India mengaku tidak mampu lagi menahan hantaman kerugian akibat lonjakan harga minyak mentah global. Sebagai importir dan konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, India menjadi salah satu negara ekonomi besar terakhir yang menyerah pada keadaan dan terpaksa membebankan kenaikan biaya kepada konsumen.
Besaran kenaikan harga ini bervariasi di setiap wilayah karena perbedaan pajak lokal. Berdasarkan data dari Indian Oil Corporation, di ibu kota New Delhi, harga bensin merangkak naik dari 94,77 rupee menjadi 97,77 rupee (USD 1,02) per liter. Sementara itu, solar naik dari 87,67 rupee menjadi 90,67 rupee per liter. Sebelum kebijakan ini, pemerintah India juga telah mengerek harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang menjadi bahan bakar dapur utama jutaan rumah tangga di sana.
Kebijakan menaikkan harga BBM ini berjalan beriringan dengan langkah penghematan (austerity) ekstrem yang dicanangkan pemerintah demi menekan konsumsi bahan bakar dan menyelamatkan cadangan devisa negara. Guna menambal kelangkaan pasokan dari Timur Tengah, India sebenarnya telah mendiversifikasi sumber energinya dengan menggenjot impor minyak mentah dari Rusia. Namun, kapasitas tersebut masih belum cukup membendung pembengkakan biaya impor.
Sadar akan ancaman krisis yang mengintai negeri dengan 1,4 miliar penduduk tersebut, Perdana Menteri Narendra Modi mengambil langkah tidak biasa. Melalui pidatonya yang dilansir dari abc.net.au, PM Modi menyerukan gerakan penghematan devisa besar-besaran yang ia sebut sebagai tindakan "sehat dan patriotik".
PM Modi meminta warganya melakukan pengorbanan kolektif, di antaranya menyetop pembelian emas selama satu tahun (India merupakan salah satu importir emas terbesar dunia), memaksimalkan sistem Bekerja dari Rumah (WFH), membatasi perjalanan non-esensial, serta beralih ke transportasi umum atau berbagi kendaraan (car-pooling), mempercepat transisi ke kendaraan listrik dan mengimbau para petani memangkas separuh penggunaan pupuk kimia, serta meminta tingkat rumah tangga mengurangi konsumsi minyak goreng.
"Dalam situasi saat ini, kita harus sangat menekankan penghematan devisa," tegas Modi.
Hingga saat ini, India masih sangat rentan terhadap guncangan geopolitik energi karena harus mengimpor sekitar 85 persen dari total kebutuhan minyak mentah domestiknya. Kenaikan harga BBM pertama dalam 4 tahun ini menjadi sinyal kuat bahwa lanskap ekonomi Asia Selatan sedang bersiap menghadapi masa-masa sulit akibat perang di Asia Barat.
Baca Juga: Tembus Rp17.600, BI Dikabarkan Mulai Kehabisan Amunisi Kuatkan Rupiah
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Begini Ramalan Nilai Tukar Rupiah dalam Waktu Dekat, Bisa Tembus Rp 20.000?
-
Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada
-
Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Klaim Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Tumbuh 5,61%
-
Gaji Ke-13 PNS dan Pensiunan Kapan Cair? Kabar Gembira, Jadwal Pencairan PPPK Sudah Diumumkan
-
Purbaya Blak-blakan Restrukturisasi Utang Whoosh Lelet, Padahal Sudah Diputuskan
-
Laba Melesat 317%, Emiten Ini Ungkap Strategi Monetisasi Kawasan
-
RI-Rusia Perluas Kerja Sama Energi: Dari Minyak Mentah, Kilang Tuban, hingga Pembangkit Nuklir
-
Kapitalisme Negara ala Prabowo, Mengulangi Kegagalan Venezuela?
-
Tembus Rp17.600, BI Dikabarkan Mulai Kehabisan Amunisi Kuatkan Rupiah
-
Dituntut Masyarakat, Danantara Jelaskan soal Laporan Keuangan yang Belum Dipublikasi