- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,40 persen ke level 6.572 pada perdagangan Selasa pagi, 19 Mei 2026.
- Sebanyak 2,13 miliar saham ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia dengan nilai mencapai Rp 1,18 triliun pada perdagangan tersebut.
- Analis memproyeksikan potensi pembalikan arah teknikal IHSG di rentang 6.460 hingga 6.700 setelah ditekan oleh sentimen bursa global.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah memerah di awal perdagangan, Selasa 19 Mei 2026, IHSG dibuka melemah ke level 6.599.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.07 WIB, IHSG meluncur turun 0,40 persen ke level 6.572.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 2,13 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,18 triliun, serta frekuensi sebanyak 181.000 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 309 saham bergerak naik, sedangkan 226 saham mengalami penurunan, dan 424 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, ESTI, BELL, ZATA, SSTM, LCKM, SRAJ.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, DYAN, DSSA, TPIA, BPTR, TOTL, MGLV.
Proyeksi IHSG
IHSG berpotensi mengalami pembalikan arah atau short-term technical rebound pada perdagangan Selasa pagi ini (19/5/2026). Peluang penguatan jangka pendek ini terbuka setelah indeks acuan domestik mengalami tekanan selama lima hari berturut-turut.
Secara teknikal, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan akan bergerak pada rentang batas bawah (support) di level 6.460 hingga 6.500, sementara target pembalikan arah atau batas atas (resistance) berada di kisaran 6.650 hingga 6.700.
Baca Juga: IHSG Bisa Rebound Hari Ini, Saham BUMI dan PTRO Masuk Rekomendasi
Sentimen dari bursa global diproyeksikan ikut memengaruhi pergerakan pasar domestik. Dari New York, indeks Nasdaq ditutup melemah pada perdagangan Senin malam akibat rontoknya saham-saham di sektor teknologi.
Memanfaatkan momentum potensi rebound teknikal IHSG, Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, CFP, merekomendasikan beberapa saham pilihan dengan strategi Speculative Buy untuk perdagangan hari ini: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Ada Risiko Downgrade IHSG Meski Tekanan Isu MSCI Mulai Reda
-
Pertamina Tepat Belum Turunkan Harga Pertamax
-
Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap
-
Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City
-
Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh
-
Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru
-
Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050
-
Ratusan Santri Antusias Ikuti Beragam Aktivitas di Junior Miners Fun Fest 2026
-
Negara di Eropa Mendadak Jor-joran Belanja Militer, Ada Isu Perang Besar?
-
Manajemen dan Komunitas Gim Digital di Indonesia Mulai Dilirik Investor