- BEI bocorkan calon emiten kebun binatang dengan dana IPO jumbo.
- Nama Taman Safari kembali dikaitkan dengan rencana IPO 2026.
- IPO sektor hiburan dinilai jadi cermin daya beli masyarakat.
Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) memberi sinyal bakal kedatangan emiten baru beraset jumbo dari sektor hiburan. Menariknya, perusahaan yang dimaksud bukan rumah produksi film atau platform digital, melainkan pengelola kebun binatang yang disebut-sebut memiliki skala terbesar di Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, yang mengungkap ada calon emiten dengan nilai penghimpunan dana terbesar di antrean initial public offering (IPO) tahun ini.
“Kalau anak-anak ingin kita educate, ada kebun binatangnya. Itu kan relatif secara real bisa kita lihat,” ujar Nyoman di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).
Meski tak menyebut nama perusahaan secara gamblang, pasar langsung mengaitkan pernyataan tersebut dengan Taman Safari Indonesia. Rumor IPO pengelola taman satwa itu memang sudah beredar sejak tahun lalu.
Pada April 2025, media DealStreetAsia sempat melaporkan bahwa Taman Safari tengah mempertimbangkan IPO di pasar modal domestik. Dalam laporan tersebut, Taman Safari disebut memiliki kondisi keuangan yang kuat dan dinilai berpotensi menarik minat investor.
Jika benar melantai di bursa, IPO Taman Safari dipandang bukan sekadar aksi korporasi biasa. Langkah ini juga dinilai bisa menjadi indikator penting untuk membaca daya beli masyarakat Indonesia, khususnya pada sektor pengeluaran hiburan dan rekreasi.
Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, minat masyarakat terhadap wisata keluarga dianggap mencerminkan kesehatan konsumsi kelas menengah. Investor pun diyakini akan mencermati apakah bisnis rekreasi berbasis pengalaman masih mampu tumbuh agresif.
BEI sendiri mencatat saat ini terdapat 15 perusahaan dalam antrean IPO. Mayoritas berasal dari sektor consumer cyclical, consumer non-cyclical, infrastruktur, dan kesehatan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 perusahaan dikategorikan sebagai perusahaan besar.
Nyoman menilai komposisi antrean IPO kali ini menunjukkan kualitas emiten yang cukup solid. Seluruh proses pencatatan saham ditargetkan bisa rampung hingga Agustus 2026.
Baca Juga: Dasco Harap Tanggal 29 Mei Ada Kejutan di Bursa Saham
Apabila IPO Taman Safari benar terealisasi, pasar modal Indonesia berpotensi kedatangan emiten unik yang selama ini lebih dikenal sebagai destinasi wisata keluarga ketimbang mesin penghasil cuan di lantai bursa.
Diketahui Taman Safari adalah perusahaan swasta murni di bawah Taman Safari Indonesia (TSI) Group, yang dimiliki dan dikelola secara tertutup oleh keluarga pendiri awalnya.
Pemilik utamaya adalah Jansen Manansang, Frans Manansang, dan keluarga Tony Sumampau. Mereka adalah pendiri TSI Group yang awalnya memulai perjalanan bisnis dari kelompok Oriental Circus Indonesia.
TSI saat ini mengelola beberapa destinasi wisata konservasi populer di Indonesia, antara lain Taman Safari Bogor (Jawa Barat), Taman Safari Prigen (Jawa Timur), Bali Safari & Marine Park (Bali), serta Jakarta Aquarium & Safari (Neo Soho Mall, Jakarta).
Saat ini, TSI Group juga tengah bersiap melakukan ekspansi pembangunan wisata di kawasan IKN (Ibu Kota Nusantara) yang rencananya mulai digarap dan beroperasi.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Menkeu Purbaya Buka Suara soal Pembentukan Badan Ekspor
-
Purbaya Klaim Rupiah Masih Aman usai Suntik Pakai APBN Rp 2 Triliun
-
Rupiah Tembus Rp17.679, Gelombang PHK Massal Menanti di Depan Mata
-
Dasco Harap Tanggal 29 Mei Ada Kejutan di Bursa Saham
-
Dasco Optimistis IHSG Menguat Setelah 29 Mei, Ada Strategi Rahasia
-
IHSG Semakin Ancur ke Level 6.300 pada Sesi I
-
Arus Petikemas IPC TPK Tembus 1,15 Juta TEUs, Priok Melejit 36 Persen
-
Pemerintah Mau Ubah Sampah Lama di TPA Diubah Jadi BBM Lewat Teknologi Pirolisis
-
Minyak Hampir USD120 per Barel, Dunia Masuk Era Suku Bunga Tinggi Lebih Lama
-
Dari Purbaya Effect ke Purbaya Pretext: Ketika Optimisme Pasar Mulai Goyah