Bisnis / Makro
Rabu, 03 Juni 2026 | 17:09 WIB
Logo SpaceX. [Patrick T. Fallon/AFP]
Baca 10 detik
  • SpaceX bersiap melantai di bursa Nasdaq pada 12 Juni 2026 dengan target valuasi fantastis sebesar USD 1,75 triliun.
  • Perusahaan menerapkan skema all-primary offering untuk mengalirkan seluruh dana hasil penjualan saham baru ke kas internal perusahaan.
  • Langkah IPO ini ditujukan untuk mendanai ekspansi masif SpaceX di sektor kedirgantaraan, komunikasi satelit, dan kecerdasan buatan global.

Suara.com - Perusahaan roket dan satelit besutan Elon Musk, SpaceX, tengah bersiap menggebrak pasar modal global dengan membidik angka valuasi fantastis sebesar USD 1,75 triliun atau setara sekitar Rp31.000 triliun (perkiraan kurs Rp17.900 per dolar AS) dalam aksi penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO).

Jika dibandingkan dengan APBN 2025, yakni sebesar Rp2.756,3 triliun, maka nilai itu diperkirakan mencapai 10 kali lipatnya.

Berdasarkan laporan dari tiga sumber internal yang familier dengan rencana tersebut, seluruh saham yang dilepas ke publik murni merupakan lembaran saham baru.

Struktur IPO ini dirancang menggunakan skema all-primary offering. Artinya, seluruh dana segar yang merangsek masuk dari hasil penjualan saham akan dialirkan sepenuhnya ke kas internal SpaceX guna mendanai ekspansi masif.

Konsekuensinya, para pemegang saham lama di internal perusahaan tidak diberikan ruang untuk menjual kepemilikan saham mereka selama proses go public berlangsung.

Investor lama tampaknya harus bersabar melewati masa penguncian saham (lockup) bertahap, setidaknya hingga perusahaan merilis laporan keuangan kuartalan perdana pasca-IPO.

Setelah menggelar serangkaian pertemuan awal dengan sejumlah investor besar untuk menjajaki minat pasar (testing the waters), manajemen SpaceX mengindikasikan rencana penggalangan dana minimal sebesar USD 75 miliar (sekitar Rp1.222 triliun) sebagai target penawaran dasar.

Dikutip via reuters, terdapat klausul opsi penjatahan lebih (greenshoe option) sebesar 15 persen, yang memungkinkan pihak penjamin emisi (underwriter) merilis saham tambahan jika permintaan dari para pemodal melampaui estimasi awal.

Langkah penggalangan dana berskala raksasa melalui emisi saham baru ini sejatinya bukan hal asing di bursa AS, meski jarang diadakan dalam IPO berukuran jumbo.

Baca Juga: Prabowo Serahkan 1.098 Sapi Kurban Premium, Pemerintah Gelontorkan Rp100 Miliar dari APBN

Sebagai contoh, produsen mobil listrik Rivian Automotive (RIVN) pada tahun 2021 silam mengeksekusi struktur serupa, di mana investor awal seperti Amazon dan Ford memilih menahan saham mereka demi membiarkan perusahaan menyerap modal baru secara utuh.

Elon Musk sibuk jadi PNS, Tesla rencana mau ganti CEO baru?

Ada beberapa karakteristik unik dalam prospektus IPO SpaceX yang dinilai menyimpang dari pakem konvensional bursa saham. Perusahaan ini direncanakan langsung masuk ke dalam jajaran indeks bergengsi Nasdaq 100 secara instan.

Selain itu, terdapat aturan struktural khusus yang memberikan kendali mutlak kepada Elon Musk atas dewan direksi, sekaligus mengunci posisinya sebagai Kepala Eksekutif (CEO) dan Ketua Dewan Komisaris secara permanen melalui struktur saham dua kelas (dual-class share).

Aksi korporasi ini menandai momen perdana bagi SpaceX dalam membuka target pendanaan dan valuasi kepada konsorsium perbankan. 

Meski demikian, target pendanaan dan valuasi ini masih bersifat fleksibel dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika hasil kesepakatan selama pertemuan berlangsung.

IPO ini menjadi kesempatan langka bagi publik untuk ikut mendanai visi jangka panjang Elon Musk di sektor kedirgantaraan, komunikasi satelit, hingga kecerdasan buatan (AI). SpaceX saat ini telah menjelma menjadi aset paling berharga dalam imperium bisnis orang terkaya di dunia tersebut.

Load More