- Nilai tukar rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS akibat akumulasi tekanan faktor eksternal serta domestik yang terjadi.
- Pelemahan rupiah memicu kenaikan harga barang impor, biaya energi, serta inflasi yang menurunkan daya beli masyarakat secara signifikan.
- Ekonom menyarankan masyarakat mengelola keuangan dengan memprioritaskan kebutuhan pokok, menyediakan dana darurat, serta membatasi pinjaman berbunga tinggi.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih terus meloyo, bahkan hampir menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS. Kondisi ini memberikan kekhawatiran terhadap masyarakat, karena harga barang-barang akan mengalami kenaikan, yang berimbas pada meningkatnya pengeluaran.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan masyarakat tidak perlu panik jika rupiah bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Menurutnya, yang terpenting adalah memahami dampak yang mungkin muncul terhadap pengeluaran rumah tangga dan menyesuaikan strategi keuangan sejak dini.
"Menurut saya, pelemahan rupiah yang semakin dekat ke Rp 18.000 per dolar AS bukan disebabkan satu faktor tunggal, melainkan akumulasi tekanan eksternal dan domestik yang terjadi bersamaan," ujar Josua Pardede saat dihubungi Suara.com, Kamis (4/6/2026).
Dampak Rupiah Melemah
Ia menjelaskan, tekanan terbesar berasal dari kombinasi harga minyak dunia yang masih tinggi, kuatnya dolar AS, serta melemahnya surplus perdagangan Indonesia.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar meningkat, sementara pasokan devisa dari perdagangan semakin menipis.
Josua menuturkan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga berbagai barang yang bergantung pada bahan baku impor. Mulai dari elektronik, alat kesehatan, obat-obatan, komponen otomotif hingga energi dapat mengalami kenaikan biaya.
"Jika pelemahan rupiah berlanjut, dampak pertama adalah kenaikan biaya impor. Barang konsumsi impor, bahan baku industri, obat, alat kesehatan, mesin, komponen otomotif, elektronik, dan energi akan menjadi lebih mahal," jelasnya.
Tak hanya itu, tekanan terhadap inflasi juga berpotensi meningkat. Menurut Josua, biaya logistik dan energi yang lebih mahal pada akhirnya bisa diteruskan ke harga barang dan jasa yang dibayar masyarakat.
Baca Juga: Risiko Besar jika Rupiah Tembus Rp18.000, Siapa yang Dirugikan?
"Dampak kedua adalah tekanan inflasi, terutama jika harga minyak tetap tinggi dan biaya logistik naik," jelasnya.
Siasat Atur Keuangan
Karena itu, Josua menyarankan masyarakat mulai memperkuat ketahanan keuangan rumah tangga.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memprioritaskan kebutuhan pokok dan menunda pembelian barang konsumsi yang tidak mendesak, terutama produk impor yang rentan mengalami kenaikan harga.
Selain itu, masyarakat juga perlu memastikan dana darurat tersedia untuk menghadapi potensi kenaikan biaya hidup dalam beberapa bulan ke depan. Diversifikasi investasi juga dinilai penting agar risiko akibat gejolak pasar dapat diminimalkan.
Menurut Josua, masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap peningkatan beban pinjaman. Sebab, pelemahan rupiah yang disertai kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya kredit.
"Dampak ketiga adalah tekanan terhadap dunia usaha, karena perusahaan yang punya pinjaman valas atau bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi biaya lebih tinggi. Dampak keempat adalah penurunan daya beli masyarakat, karena harga barang naik sementara cicilan dan bunga kredit berpotensi ikut naik setelah BI menaikkan BI Rate," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Lepas Status WNI Biayanya Naik 5 Kali Lipat, Menteri Supratman: Bukan Masalah Buat Bangsa
-
Timur Tengah di Ambang Perang Besar! Kematian 3 Tentara Picu Serangan Brutal AS ke Iran
-
Gendong Ransel Hitam dan Bertopi Biru, Bupati Lombok Barat Resmi Masuk Gedung Merah Putih KPK
-
Ledakan Guncang Grand Polonia Medan, Lima Rumah Alami Kerusakan
-
Penembak Sekuriti dan Warga Negara Maroko di Bali Punya Izin Senpi
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub
-
Berawal dari Dapur Rumahan, Camilan BUNCY Kini Mendunia Bersama BRI
-
Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tiba di KPK
-
Banyak Sekolah Rusak? Prabowo Janji Bereskan Semuanya Sebelum 2029