Bisnis / Ekopol
Kamis, 04 Juni 2026 | 07:45 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar Rupiah melemah hingga mencapai Rp17.956 per dolar AS pada awal Juni 2026 akibat tekanan faktor global.
  • Pelemahan Rupiah yang berkepanjangan berpotensi memicu inflasi barang impor serta menurunkan daya beli masyarakat kelas menengah secara signifikan.
  • Pemerintah dan Bank Indonesia perlu berkolaborasi menjaga stabilitas ekonomi serta memperkuat kepercayaan pasar demi mencegah devaluasi lebih lanjut.

Suara.com - Rupiah yang terus melemah memasuki awal bulan Juni memiliki risiko kekhawatiran yang harus diwaspadai. Adapun, mata uang Garuda sudah menyentuh level Rp17.956 dan mulai mendekati Rp18.000 per dolar AS.

Kepala Pusat Makroekonomi Indef, M Rizal Taufikurahman, mengatakan rupiah yang terus mendekati Rp18.000 per dolar AS perlu diwaspadai karena dapat memberikan tekanan cukup besar terhadap ekonomi domestik.

"Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi faktor global seperti penguatan dolar AS, suku bunga tinggi AS, dan ketegangan geopolitik, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal, arus modal, dan ketahanan ekonomi domestik," jelasnya saat dihubungi Suara.com, Kamis (4/6/2026).

Kata dia, jika pelemahan rupiah berlangsung terlalu lama, dapat memperbesar tekanan terhadap inflasi dan daya beli masyarakat. Hal ini bakal merugikan masyarakat kelas menengah.

Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah potensi kenaikan harga barang. Terutama produk yang memiliki kandungan impor tinggi seperti pangan tertentu, obat-obatan, elektronik, BBM, hingga biaya transportasi dan logistik.

"Pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya bahan baku industri sehingga berpotensi memicu imported inflation. Dalam jangka menengah, kondisi ini dapat menekan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, karena kenaikan harga sering kali lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan," jelasnya.

Bank Indonesia

Untuk mencegah rupiah menembus Rp18.000, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar secara bersamaan.

BI perlu memperkuat stabilisasi nilai tukar dan menjaga daya tarik aset domestik, sementara pemerintah harus memperkuat kredibilitas fiskal, menjaga defisit tetap terkendali, dan mempercepat masuknya devisa hasil ekspor ke dalam negeri.

"Di sisi lain, penguatan industri domestik dan pengurangan ketergantungan impor juga penting agar ekonomi Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak global dan tekanan kurs," tandasnya.

Baca Juga: IHSG Anjlok Karena Investor Ragukan Kredibilitas Kebijakan Pemerintah

Load More