- Rupiah anjlok nyaris Rp18.200 per dolar AS dan IHSG terpuruk di bawah 5.000 sepanjang 2026.
- Menkeu Purbaya dikritik karena blunder komunikasi, overconfidence, dan kalah kapasitas memimpin.
- Ekonom sarankan Chatib Basri sebagai pengganti untuk evaluasi kebijakan populis Prabowo yang boros.
Suara.com - Perekonomian domestik tengah menghadapi ujian terhebat sepanjang tahun 2026. Mata uang Garuda terus berada di bawah tekanan hebat, meluncur jatuh hingga menyentuh level terendah dalam sejarah di angka nyaris Rp18.200 per dolar AS. Paralel dengan kejatuhan kurs, Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) juga kehilangan taji, belum mampu bangkit dari level psikologis 5.000 setelah ambruk hingga 36 persen sepanjang tahun berjalan.
Di tengah situasi genting ini, sorotan tajam langsung mengarah ke Lapangan Banteng, khususnya kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Publik dan pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah nakhoda fiskal saat ini masih layak dipertahankan?
Overconfidence
Desakan untuk mengganti Purbaya bukan tanpa alasan kuat. Sebagai pejabat publik yang mengomandoi stabilitas fiskal, strategi komunikasi Purbaya dinilai kerap berseberangan dengan realitas pasar. Salah satu momentum yang paling disorot terjadi pada Jumat (22/5/2026) dalam acara Jogja Financial Festival 2026.
Kala itu, Purbaya dengan percaya diri menjanjikan bahwa nilai tukar rupiah akan menguat tajam ke arah Rp15.000 per dolar AS pada bulan Juni, berkat klaim adanya suplai dolar dalam jumlah masif yang akan masuk ke sistem ekonomi makro.
"Masyarakat gak usah takut kalo ada yang ribut-ribut rupiah akan jeblok seperti di 98," ucapnya optimis. Namun, memasuki pertengahan Juni, janji tersebut justru berbanding terbalik dengan kenyataan pasar.
Mantan anggota DPR RI, Akbar Faizal, secara terbuka melayangkan kritik keras melalui akun media sosial pribadinya. Akbar mengklaim Purbaya telah kalah dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
"Anda kalah Mas Yudhi @PurbayaYudhi, Menteri @KemenkeuRI. Semua yang Anda ucapkan dan janjikan tak terbukti. Putuskan sesuatu yang layak bagi kami dan untuk diri Anda sendiri," tulis Akbar.
'Sell Indonesia' Menyeruak
Baca Juga: Rupiah Mulai Bangkit Lawan Dolar AS ke Level Rp18.144, Apa Untungnya untuk Ekonomi?
Tekanan geopolitik kian diperparah oleh laporan media internasional, Bloomberg, yang menempatkan pasar saham Indonesia sebagai instrumen dengan kinerja terburuk tahun ini di antara 90 indeks global yang dipantau. Investor asing dilaporkan telah menarik dana miliaran dolar AS dari pasar obligasi dalam negeri, memicu lahirnya fenomena dagang populer di Asia saat ini: 'sell Indonesia'.
Merespons gelombang sentimen negatif tersebut, Purbaya justru memilih bersikap defensif. Ia menilai fenomena tersebut tidak menggambarkan fundamental ekonomi nasional secara utuh dan menuding balik bahwa analis media internasional tidak sepenuhnya memahami dinamika domestik. Kendati mempercepat publikasi laporan APBN KiTA untuk meyakinkan investor, bagi para pelaku pasar langkah tersebut justru memperlihatkan sikap overconfidence yang kurang terukur di saat kas negara mulai menipis.
Urgensi Efisiensi
Kepada Suara.com, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai posisi menteri keuangan saat ini membutuhkan figur yang tidak sekadar paham teori, tetapi juga merupakan komunikator pasar yang andal.
Bhima memunculkan nama mantan menteri keuangan Chatib Basri (Mas Dede) sebagai sosok pengganti yang secara kapasitas dan rekam jejak berada jauh di atas Purbaya.
Namun, Bhima menggarisbahwahi tantangan besar yang akan dihadapi oleh pengganti Purbaya kelak: keberanian mengevaluasi kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto.
Proyeksi pembengkakan defisit anggaran akibat program belanja skala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) dianggap terlalu membebani negara. Pengganti menteri keuangan dipaksa harus berani menyusun skala prioritas, misalnya dengan memangkas operasional dapur MBG hingga 90 persen dan memfokuskan implementasi awal hanya pada daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Museum Bank Indonesia Simpan Uang Antik Hampir 200 Tahun, BI Siapkan Transformasi ke Era Digital
-
Cek Toko On Flagship Store di Blibli Tersedia Banyak Model Terbaru
-
CLIK Kenalkan Skor Prediktif, Bank Kini Bisa Deteksi Calon Peminjam 3 Bulan Lebih Awal
-
Mengenal Universitas Republik Indonesia, Ambisi Pendidikan atau Beban Baru APBN?
-
Pre Order Samsung Galaxy Z Fold 8 di Blibli Tanggal 22 Juli hingga 13 Agustus, Cek Promo & Harganya!
-
Samsung Galaxy Watch Ultra2 vs Galaxy Watch9: Mana Smartwatch AI yang Paling Layak Anda Miliki?
-
4 Shio yang Menarik Keberuntungan 24 Juli 2026, Semesta Berpihak ke Kamu
-
Misi Menyelamatkan Dunia di Balik Sikap Jutek Cranky, Crabby Crow
-
Ulasan Novel Playing Victim, Skenario Palsu yang Berujung Pertaruhan Nyawa
-
Operasi Besar-besaran! Banten Tutup 32 Tambang Ilegal