- Otoritas moneter memastikan bakal menyelenggarakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan sesuai jadwal.
- BI tetap melangsungkan rapat koordinasi rutin mingguan
- Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk terus mengawal dan melakukan intervensi taktis terhadap pergerakan mata uang Garuda di pasar valuta asing.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan agenda evaluasi kebijakan moneter sesuai dengan kalender kerja yang telah ditetapkan sebelumnya.
Otoritas moneter memastikan bakal menyelenggarakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan sesuai jadwal, yakni pada tanggal 17 hingga 18 Juni 2026 mendatang.
Di samping agenda bulanan tersebut, bank sentral juga akan tetap melangsungkan rapat koordinasi rutin mingguan yang terjadwal setiap hari Selasa dan Kamis seperti biasa.
Kalangan pelaku pasar keuangan global sebelumnya sempat berspekulasi dan mempertanyakan kemungkinan adanya rencana pelaksanaan rapat darurat di luar jadwal resmi (off-cycle meeting), guna merespons tren pelemahan nilai tukar rupiah yang kian tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir.
Guna menenangkan gejolak psikologis para pemilik modal di pasar keuangan dalam negeri, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan bahwa otoritasnya tidak akan tinggal diam.
Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk terus mengawal dan melakukan intervensi taktis terhadap pergerakan mata uang Garuda di pasar valuta asing.
Langkah pengawasan reguler ini diambil secara konsisten dengan tujuan utama untuk mencegah terjadinya fluktuasi nilai tukar yang terlalu ekstrem atau berlebihan (excessive fluctuations).
Lebih lanjut, dari sudut pandang analisis makro, Destry memaparkan bahwa tren kejatuhan nilai tukar rupiah baru-baru ini sebenarnya masih berada dalam koridor yang sejalan dengan koreksi performa yang tengah menimpa berbagai mata uang di negara-negara berkembang lainnya (emerging market currencies).
Dalam Laporan BNI Sekuritas, pelemahan mata uang regional tersebut secara linier dipicu oleh faktor eksternal dominan yang berasal dari luar negeri.
Baca Juga: Dihantam Rupiah dan Aksi Jual! IHSG Diprediksi Sulit Bangkit, Tapi Saham-saham Ini Bisa jadi Pilihan
Tekanan utama bersumber dari melesatnya indeks dolar AS (DXY) yang menguat tajam di pasar internasional, yang diperparah oleh tren kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (U.S. Treasury yields) yang terus merangkak naik ke level tertinggi baru.
Berita Terkait
-
Uang Tunai dan Dana Perbankan Tetap Melimpah, BI Catat Uang Primer Tumbuh 14,2%
-
IDRX: Stablecoin Rupiah Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia
-
Prabowo dalam Tekanan! Media Asing Sebut Anies Baswedan Saat Rupiah dan IHSG Kompak Jebol
-
Rupiah-IHSG Ambruk, Purbaya Akui Kelemahannya Ada di Komunikasi Pemerintah
-
Kepercayaan Investor Asing Hilang, Rupiah dan IHSG Kompak Melemah Hari Ini
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Flexi Gold Bank Mega Syariah Melonjak 1.688 Persen, Pembiayaan Emas Tembus Rp43 Miliar
-
Sempat Dibuka Hijau, IHSG Akhirnya Berlanjut Melemah
-
Siap-siap Beli, Harga Emas Antam Anjlok Jadi Rp 2.733.000 per Gram
-
BRI Permudah Registrasi BRImo di 15 Negara, Pengguna Tembus 47,8 Juta
-
Kabar Reshuffle Direksi PLN Disebut Hoaks, RUPS Baru Digelar 15 Juni
-
Industri Alternatif Rokok Dorong Edukasi Berbasis Sains
-
Harga Emas di Pegadaian Pagi Ini: Antam Mulai Naik, Emas Lain Ada yang Turun
-
8 Calon Emiten Skala Jumbo Mau IPO, Ini Bocorannya
-
Uang Tunai dan Dana Perbankan Tetap Melimpah, BI Catat Uang Primer Tumbuh 14,2%
-
Impor Melonjak 31%, Surplus Dagang RI Nyaris Habis Tersisa 90 Juta Dolar AS