Bisnis / Keuangan
Selasa, 09 Juni 2026 | 09:22 WIB
IHSG masih berlanjut melemah. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • IHSG berbalik melemah 0,39 persen ke level 5.321 pada awal perdagangan, setelah sebelumnya dibuka menguat. 
  • Brights Institute memproyeksikan IHSG masih tertekan dengan area support di 5.200 dan resistance di 5.600. 
  • Risiko utama pasar berasal dari pelemahan rupiah di atas Rp18.150 per dolar AS, aksi jual investor asing, serta sentimen global akibat konflik Iran-Israel dan koreksi saham teknologi dunia.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dua arah pada pembukaan perdagangan, Selasa, 8 Mei 2026. IHSG dibuka menguat ke level 5.344.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.05 WIB, IHSG justru berbalik melorot0,39 persen ke level 5.321.

Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 4,30 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,07 triliun, serta frekuensi sebanyak 156.900 kali.

Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 205 saham bergerak naik, sedangkan 317 saham mengalami penurunan, dan 437 saham tidak mengalami pergerakan.

IHSG bergerak dua arah pagi ini. [Antara]

Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, BABY, BOAT, SEMA, BCIC, dan MGNA.

Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, SUPA, MPMX, DPUM, ALKA, dan NZIA.

Proyeksi IHSG

IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini setelah anjlok 4,52 persen ke level 5.342 pada sesi sebelumnya. Pelemahan tersebut juga dibarengi aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp588 miliar di pasar reguler.

BRI Danareksa Sekuritas menilai sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan pasar saham domestik. Koreksi tajam saham-saham teknologi global yang menekan indeks Nasdaq dan KOSPI turut memicu sentimen negatif di pasar keuangan.

Baca Juga: RUPS PT Telkom Setujui Dividen Rp21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp4 Triliun

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati penurunan cadangan devisa Indonesia yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut. Posisi cadangan devisa tercatat turun menjadi 144,9 miliar dolar AS, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing.

"IHSG berpotensi melanjutkan tekanan pelemahan dalam jangka pendek dengan area support di level 5.200 dan resistance di level 5.600," tulis riset BRI Danareks Sekuritas.

Menurut BRI Danareksa, pergerakan rupiah yang masih bertahan di atas Rp18.150 per dolar AS menjadi salah satu risiko utama bagi pasar saham. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan apabila diikuti arus keluar dana asing yang berlanjut.

Selain itu, meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik Iran dan Israel juga menjadi faktor yang mendorong investor cenderung menghindari aset berisiko atau risk-off.

Di sisi lain, pergerakan bursa saham Amerika Serikat pada perdagangan sebelumnya ditutup bervariasi. Indeks Dow Jones melemah 0,16 persen ke level 50.786,01. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,30 persen ke level 7.405,73 dan Nasdaq Composite naik 0,86 persen menjadi 25.929,66.

Untuk rekomendasi saham, Brights Institute menjagokan saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) sebagai pilihan perdagangan hari ini.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.

Load More