- 20 persen rumah tangga terkaya menikmati 50 persen subsidi BBM Indonesia.
- Subsidi energi menyedot anggaran negara hingga 1,6 persen dari PDB.
- Reformasi subsidi berpotensi menghemat fiskal hingga 2,1 persen PDB.
Suara.com - Bank Dunia (World Bank) menyoroti keras pola penyaluran subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia yang dinilai masih jauh dari tepat sasaran. Lembaga keuangan global itu mengungkap fakta mencengangkan bahwa kelompok rumah tangga terkaya justru menjadi penerima manfaat terbesar dari subsidi energi yang dibiayai negara.
Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia mengungkapkan bahwa 20 persen rumah tangga terkaya di Indonesia menikmati sekitar setengah dari total subsidi BBM yang diberikan pemerintah.
Menurut Bank Dunia, kondisi tersebut semakin bermasalah ketika harga minyak dunia melonjak. Selain memperbesar beban fiskal negara, mekanisme subsidi yang berlaku saat ini dinilai gagal melindungi kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
"Lonjakan harga minyak global mengungkap beban fiskal dan kelemahan dari penargetan subsidi BBM, di mana 20% rumah tangga terkaya justru menerima setengah dari total subsidi BBM," tulis Bank Dunia dalam laporannya.
Lembaga keuangan internasional itu mencatat belanja subsidi energi Indonesia mencapai 1,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), menjadikannya salah satu komponen pengeluaran publik yang cukup besar. Akibatnya, ruang fiskal pemerintah untuk membiayai program pembangunan dan perlindungan sosial menjadi semakin terbatas.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bank Dunia menawarkan tiga langkah reformasi subsidi BBM. Pertama, pemerintah disarankan melakukan penyesuaian harga BBM secara bertahap agar selisih antara harga subsidi dan harga pasar semakin kecil.
Langkah kedua adalah menyalurkan bantuan langsung tunai kepada 40 persen rumah tangga termiskin sebagai kompensasi atas kenaikan harga energi. Menariknya, Bank Dunia menilai biaya bantuan tersebut relatif kecil, hanya sekitar 10 persen dari total penghematan yang diperoleh dari reformasi subsidi BBM.
Adapun langkah ketiga adalah mengalihkan dana hasil penghematan subsidi untuk memperkuat program perlindungan sosial, investasi publik, serta mendukung mata pencaharian masyarakat yang terdampak kebijakan tersebut.
Berdasarkan simulasi yang dilakukan Bank Dunia, reformasi subsidi secara bertahap selama dua tahun berpotensi menghasilkan penghematan fiskal hingga 1,3 persen dari PDB. Bahkan setelah kebijakan penyesuaian harga diterapkan sepenuhnya, ruang fiskal pemerintah diperkirakan meningkat menjadi 2,1 persen dari PDB.
Baca Juga: BBM Naik, Kritik Diblokade: Mengapa Hubungan Kita dan Pemerintah Makin Toxic?
Namun demikian, Bank Dunia mengingatkan bahwa keberhasilan reformasi tidak hanya bergantung pada desain kebijakan, tetapi juga pelaksanaannya di lapangan. Pemerintah dinilai perlu menyiapkan komunikasi publik yang jelas, memperkuat Data Tunggal Sosial dan Ekonomi (DTSEN), serta memastikan transparansi penggunaan dana hasil penghematan subsidi.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim