Bisnis / Energi
Senin, 15 Juni 2026 | 19:36 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tak mau mengumbar soal pembentukan Badan Ekspor. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut].
Baca 10 detik
  • Kementerian ESDM menaikkan kisaran asumsi harga minyak mentah Indonesia menjadi 70 hingga 95 dolar AS untuk RAPBN 2027.
  • Pemerintah menetapkan target lifting migas tahun 2027 sebesar 1,536 hingga 1,592 juta barel setara minyak per hari.
  • Alokasi subsidi BBM dan listrik untuk tahun 2027 diusulkan meningkat dibandingkan dengan pagu anggaran pada APBN 2026.

Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikan kisaran harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) antara 70 dolar AS hingga 95 per barel dolar AS dalam RAPBN 2027.

Sebelumnya, asumsi ICP dalam APBN 2026 dipatok seharga 70 dolar AS per barel.

"Di 2026, kita ketok palu  dengan angka 70 dolar AS. Tetapi di 2027, kisarannya batas minimum 70 dolar AS dan maksimalnya di angka 95 dolar AS (per barel)," kata Bahlil saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Senin (15/6/2026). 

Asumsi ICP pada RAPBN 2026 sengaja dilebarkan guna mengantisipasi dampak geopolitik terhadap harga minyak dunia.

Ilustrasi harga minyak dunia meningkat. (Shutterstock)

"Dan kita berdoa bahwa persoalan-persoalan global ini bisa segera selesai sehingga kita bisa membangun suatu frame analisa dan konstruksi terhadap perkiraan harga minyak dunia ke depan yang lebih presisi, Sebab sekarang ini bisa cepat naik, bisa cepat turun," kata Bahlil. 

Di sektor hulu migas, Bahlil mengajukan  target lifting migas di kisaran 1,536 juta hingga 1,592 juta barel setara minyak per hari (BOEPD) untuk tahun 2027. Angka perkiraan tersebut menyusut dibandingkan dengan target APBN 2026 yang yang berada di level 1,594 juta BOEPD.

Secara rinci, lifting minyak bumi diusulkan berada di rentang 602 ribu sampai 615 ribu barel per hari (BOPD), bergeser dari target tahun lalu yang dipatok 610 ribu BOPD. Sementara itu, untuk lifting gas bumi, pemerintah memasang target di angka 934 ribu hingga 977 ribu BOEPD, turun dari target 2026 yang berada di level 984 ribu BOEPD.

Di pos subsidi energi, pemerintah menyodorkan kuota volume BBM bersubsidi untuk tahun 2027 di kisaran 19,343 juta hingga 19,561 juta kiloliter . Angka ini merangkak naik jika disandingkan dengan alokasi  2026 yang sebesar 19,17 juta kiloliter.

Secara terperinci, alokasi minyak solar bersubsidi dirancang menyentuh 18,80 juta sampai 19 juta kiloliter, sementara minyak tanah sebesar 0,543 juta hingga 0,561 juta kiloliter.

Baca Juga: Program Kompor Listrik Masih Digeber Mas Bahlil di 2027, Anggarannya Rp 815 M

Di sisi lain, untuk LPG 3 kilogram pemerintah mempertahankan pasokan di angka sekitar 8 juta ton.  Begitu pula dengan subsidi tetap untuk solar CN48 yang diusulkan tetap bertahan di angka Rp1.000 per liter.

Adapun beban subsidi listrik diperkirakan bakal terus meningkat ke depannya. Guna mengantisipasinya,  pemerintah menyodorkan alokasi anggaran subsidi listrik sebesar Rp113,45 triliun hingga Rp122,83 triliun dalam RAPBN 2027.

Nilai tersebut meningkat dibanding  dengan pagu APBN 2026 sebesar Rp100,83 triliun.

Load More