Bisnis / Energi
Senin, 15 Juni 2026 | 19:22 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]
Baca 10 detik
  • Kementerian ESDM mengalokasikan dana Rp815 miliar untuk program kompor listrik pada tahun 2027 guna mendukung diversifikasi energi.
  • Kebijakan ini bertujuan mengurangi beban devisa negara akibat ketergantungan impor LPG yang mencapai 80 persen setiap tahunnya.
  • Pemerintah menargetkan penyediaan kompor listrik berdaya rendah di bawah 900 watt untuk memudahkan penggunaan oleh masyarakat luas.

Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih menjalakan program kompor listrik pada tahun 2027. Pemerintah menganggarkan Rp815 miliar untuk program tersebut.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai strategi menekan ketergantungan terhadap impor BBM dengan beralih ke sumber energi alternatif.

"Karena untuk kita mengurangi kebutuhan LPG, kita mencari untuk bauran energi lain. Jadi energi yang kita dorong ke depan tidak hanya tentang LPG, tapi kompor listrik, CNG, macam-macam yang kita buat. Itu sebesar Rp 815,56 miliar untuk kompor listrik," ujarnya saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta pada Senin (15/6/2026). 

Warga Solo saat menggunakan kompor listrik. [Suara.com/Ari Welianto]

Ditemui usai rapat, Bahlil menjelaskan bahwa 80 persen kebutuhan LPG berasal dari impor. Hal itu menurutnya sangat membebani devisa negara. 

"Dan devisa kita setiap tahun keluar untuk LPG minimal Rp120 triliun. Pada saat harga ICP seperti ini, harga devisa kita keluar untuk membeli LPG itu sekitar di atas Rp130 triliun. Subsidinya di atas Rp80 triliun," tuturnya. 

Untuk itu kata Bahlil, menjadi penting bagi pemerintah untuk memperluasan diversifikasi bauran  energi.

"Nah kalau kondisi ini terus kita biarkan tanpa mencari diversifikasi bauruan energi, itu akan menjadi soal. Maka salah satu alternatifnya adalah kita dorong kompor listrik," katanya. 

Sebagai tahap awal, Kementerian ESDM akan meminta model kompor listrik dengan daya dibawah 900 watt. 

"Supaya rakyat kita yang di daerah-daerah yang di kecamatan, di desa itu bisa dipakai dengan listrik kapasitas daya mereka yang ada," sebutnya. 

Baca Juga: Jika Produksi Masih Kurang, ESDM Beri Kesempatan Perusahaan Tambang Revisi RKAB

Menanggapi adanya penolakan terhadap kompor listrik sebelumnya, Bahlil menjelaskan bahwa saat ini telah tersedia model baru dengan teknologi yang jauh lebih maju dibanding versi terdahulu.

"Nah kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru," kata Bahlil. 

Load More