- Rupiah melemah ke Rp17.859 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
- Sentimen kenaikan suku bunga global tekan mata uang Asia.
- Investor menanti keputusan MSCI soal status Emerging Market Indonesia.
Suara.com - Nilai tukar rupiah kembali meriang dengan menutup perdagangan di zona merah pada Selasa (22/6/2026). Mata uang Garuda masih belum mampu keluar dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS) dan bertahan di kisaran Rp17.800 per dolar AS di tengah meningkatnya sentimen kehati-hatian investor global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,09% ke level Rp17.859 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.845 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah terjadi seiring menguatnya dolar AS yang didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap prospek kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut memicu aksi jual di sejumlah aset berisiko, terutama sektor teknologi, sehingga mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
"Rupiah dan mata uang regional maupun utama umumnya melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off global yang dipicu oleh kekhawatiran prospek kenaikan suku bunga dan sell off di sektor teknologi," ujar Lukman.
Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah masih relatif terbatas dibandingkan sejumlah mata uang regional lainnya. Menurutnya, pasar masih menaruh harapan pada keputusan MSCI terkait status pasar modal Indonesia.
"Rupiah sendiri tidak melemah terlalu besar, dengan investor masih berharap dan mengantisipasi pengumuman MSCI yang diperkirakan akan mempertahankan status Emerging Market pasar ekuitas Indonesia," katanya.
Tekanan terhadap mata uang di kawasan Asia juga terlihat cukup merata. Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,71%, disusul peso Filipina yang merosot 0,37%.
Sementara itu, won Korea Selatan terkoreksi 0,18%, dolar Singapura melemah 0,17%, yuan China turun 0,16%, dan rupee India terdepresiasi 0,14% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, ringgit Malaysia justru menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia setelah menguat 0,12%. Penguatan juga terjadi pada yen Jepang yang naik 0,06%, dolar Taiwan yang menguat 0,009%, serta dolar Hong Kong yang ditutup menguat tipis pada perdagangan hari ini.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Dolar AS Terus Naik ke Level Rp17.855
Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa faktor eksternal masih menjadi penentu utama arah pasar keuangan domestik. Selain menanti kepastian kebijakan suku bunga global, pelaku pasar juga mencermati keputusan MSCI yang dinilai berpotensi memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
Terkini
-
KOSPI dan IHSG Kompak Anjlok Parah, Pasar Saham Merana
-
Khofifah Paparkan Realisasi Pendapatan APBD Jatim 2025 Tembus 104,65 Persen
-
Mengapa Minyakita Selalu Langka? Ekonom Ungkap Masalahnya
-
Tempo Scan (TSPC) Respon Penangkapan Richard Muljadi Terkait Kasus Penipuan
-
Klarifikasi Purbaya soal Patriot Bond Bikin Investor Kebal Pajak-Hukum hingga Pencucian Uang
-
Hutama Karya Catat Kinerja Positif dalam Pengelolaan 14 Ruas Tol di Wilayah Indonesia
-
Minyakita Masih Mahal, CORE Sebut Produsen Sawit Lebih Pilih Ekspor Ketimbang Pasok Dalam Negeri
-
Siapa Richard Muljadi? Cucu Konglomerat Terjerat Penipuan Batu Bara
-
Teknologi AI Bikin Purbaya Lebih Cepat Endus Pakaian Bekas Impor Ilegal
-
Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp393 Miliar dari Pasar Saham di Sesi I