Bisnis / Keuangan
Senin, 22 Juni 2026 | 10:12 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp17.813 per dolar AS pada perdagangan Senin, 22 Juni 2026 di pasar keuangan.
  • Pelemahan terjadi akibat sikap waspada investor terhadap dinamika diplomasi Amerika Serikat-Iran serta ketidakpastian klasifikasi pasar modal domestik.
  • Tekanan mata uang Rupiah turut dirasakan oleh mayoritas mata uang kawasan regional Asia yang mengalami tren pergerakan fluktuatif.

Suara.com - Nilai tukar Rupiah (IDR) terpantau langsung tergelincir ke zona merah begitu perdagangan di pasar keuangan resmi dibuka.

Berdasarkan data kompilasi dari Bloomberg pada Senin (22/6/2026) pagi, kurs rupiah dibuka merosot ke posisi Rp17.813 per dolar AS.

Nominal tersebut memperlihatkan pelemahan sebesar 9 poin atau setara 0,05 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada akhir pekan sebelumnya yang berada di level Rp17.804 per dolar AS.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa koreksi yang dialami rupiah kali ini sangat dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang cenderung menahan diri. Menurutnya, fokus utama investor saat ini tertuju pada dinamika diplomasi internasional, khususnya kelanjutan pembicaraan damai antara pihak Amerika Serikat dan Iran.

"Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi terhadap dolar AS, dengan investor masih memantau perkembangan pembicaraan pertama antara pejabat AS dan Iran di bawah perjanjian perdamaian sementara di Swiss," ungkap Lukman saat memberikan analisisnya kepada Redaksi Suara.com.

Selain dipicu oleh faktor eksternal, pergerakan nilai tukar domestik juga dibayangi oleh sentimen dari dalam negeri. Lukman menambahkan bahwa para penanam modal masih bersikap memantau situasi (wait and see) terkait kejelasan klasifikasi pasar modal di Indonesia.

Untuk perdagangan hari ini, pergerakan mata uang rupiah diproyeksikan akan bergulir pada kisaran rentang Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Tekanan ini sendiri terjadi meski Bank Indonesia (BI) secara agresif telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar total 100 bps menjadi 5,75%.

Kebijakan pengetatan ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah dari gejolak global (seperti perang di Timur Tengah) dan menjaga inflasi tetap terkendali

Baca Juga: BBM di Indonesia Lebih Murah dari Singapura, tapi Apakah Lebih Terjangkau?

Tekanan terhadap mata uang lokal ternyata tidak terjadi secara tunggal. Mayoritas mata uang di kawasan regional Asia juga memperlihatkan tren pergerakan yang fluktuatif cenderung melemah pada sesi pembukaan pagi ini.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan catatan koreksi paling dalam setelah anjlok hingga 0,48 persen. Tren negatif tersebut kemudian diikuti oleh ringgit Malaysia yang ikut terperosok sebesar 0,25 persen.

Selanjutnya, peso Filipina dan yen Jepang juga tidak luput dari koreksi dengan pelemahan masing-masing sebesar 0,22 persen dan 0,18 persen.

Sementara itu, dolar Taiwan melorot tipis 0,08 persen, beriringan dengan dolar Singapura yang terdepresiasi sebesar 0,09 persen. Di sisi lain, performa berbeda ditunjukkan oleh baht Thailand yang berhasil merangkak naik ke zona hijau secara tipis dengan penguatan 0,03 persen.

Disclaimer: Informasi mengenai perkembangan nilai tukar rupiah, pergerakan kurs mata uang regional Asia, serta analisis pasar keuangan dalam artikel ini disajikan murni sebagai referensi berita korporasi dan edukasi finansial publik. Konten ini tidak memuat unsur rekomendasi resmi, ajakan, ataupun instruksi untuk melakukan aktivitas spekulasi dan transaksi valuta asing (valas). Segala risiko kerugian material yang diakibatkan oleh keputusan finansial sepenuhnya menjadi tanggung jawab mandiri dari masing-masing pelaku pasar.

Load More