Bisnis / Keuangan
Rabu, 24 Juni 2026 | 17:10 WIB
Harga durian di Malaysia mengalami kejatuhan drastis yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Melimpahnya pasokan akibat lonjakan produksi membuat "raja buah" tersebut dijual dengan harga sangat murah saat ini (Pexels/@tomfisk)
Baca 10 detik
  • Harga Musang King anjlok hingga RM6 per kg.
  • Durian biasa dijual hanya RM0,50 per buah.
  • Oversupply dan ekspor melemah tekan pendapatan petani.

Suara.com - Harga durian di Malaysia mengalami kejatuhan drastis yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Melimpahnya pasokan akibat lonjakan produksi membuat "raja buah" tersebut dijual dengan harga sangat murah, bahkan hanya RM0,50 atau sekitar Rp1.900 per buah.

Fenomena anjloknya harga durian ini menjadi kabar gembira bagi para pecinta durian, tetapi sekaligus menimbulkan kekhawatiran bagi petani dan pelaku usaha yang bergantung pada komoditas tersebut.

Mengutip The Straitstimes, Rabu (24/6/2026) berdasarkan laporan sejumlah pedagang, harga durian premium Musang King kini hanya berkisar RM6 per kilogram atau sekitar Rp23 ribu. Padahal, varietas unggulan tersebut biasanya dijual dengan harga berkali-kali lipat lebih tinggi.

Tidak hanya Musang King, jenis durian populer lainnya seperti Red Prawn dan D101 juga mengalami penurunan harga tajam hingga hanya RM2 per buah. Yang paling mengejutkan, durian biasa kini bisa dibeli dengan harga RM0,50 per buah, menjadi titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk menghabiskan stok yang menumpuk, para pedagang berlomba menawarkan promosi agresif. Sejumlah penjual bahkan menyediakan kantong plastik besar agar pembeli dapat memilih sendiri durian yang diinginkan sebelum dihitung berdasarkan jumlah buah.

Ada pula pedagang yang menawarkan promo ekstrem berupa satu karung penuh durian hanya seharga RM100. Strategi tersebut sukses menarik gelombang pembeli yang berburu durian murah.

Pelaku industri menilai kejatuhan harga dipicu oleh ekspansi perkebunan durian yang masif dalam beberapa tahun terakhir. Di saat yang sama, sejumlah pasar ekspor memperketat kebijakan impor sehingga volume pengiriman ke luar negeri tidak mampu menyerap lonjakan produksi.

Akibatnya, pasokan durian membanjiri pasar domestik dan menciptakan kondisi oversupply yang parah. Situasi ini diperburuk oleh karakteristik durian yang tidak dapat disimpan dalam waktu lama.

Jika tidak segera terjual, buah akan membusuk dan menyebabkan kerugian yang lebih besar bagi petani maupun pedagang. Karena itu, pemangkasan harga secara besar-besaran menjadi langkah darurat untuk meminimalkan kerugian.

Baca Juga: Tragis di Negeri Rantau, PMI Asal Aceh dan Bayinya Tewas Diduga Dibunuh di Malaysia

Sejumlah pedagang mengakui mereka tidak memiliki banyak pilihan selain menjual dengan harga murah. Meski margin keuntungan menyusut tajam, langkah tersebut dianggap lebih baik dibandingkan harus membuang stok yang sudah tidak layak konsumsi.

Kondisi ini menunjukkan risiko besar yang dihadapi sektor pertanian ketika produksi meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan pasar menyerap pasokan. Tanpa diversifikasi pasar dan penguatan ekspor, kelebihan produksi dapat dengan cepat menekan harga hingga merugikan petani.

Di sisi lain, konsumen menjadi pihak yang paling diuntungkan. Harga yang sangat murah membuat permintaan melonjak dan memicu antusiasme masyarakat untuk menikmati durian dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.

Bagi petani, krisis harga ini menjadi peringatan bahwa pengelolaan produksi, akses pasar ekspor, serta pengembangan industri pengolahan pascapanen menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas bisnis durian dalam jangka panjang.

Load More