- Antrean ribuan pencari kerja di Melaka, Malaysia, memicu kekhawatiran serupa mengenai minimnya lapangan kerja formal di Indonesia.
- Indonesia menghadapi tantangan penumpukan pencari kerja karena pertumbuhan lapangan kerja formal masih kalah jauh dibandingkan sektor informal.
- Faktor ekonomi, kebijakan suku bunga, serta sikap investor menyebabkan perlambatan ekspansi industri yang membatasi ketersediaan lowongan pekerjaan berkualitas.
Suara.com - Viral antrean sepanjang sekitar dua kilometer yang dipenuhi lebih dari 1.000 pencari kerja di Melaka, Malaysia, memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja di Asia Tenggara.
Fenomena tersebut dinilai bisa terjadi di Indonesia jika pertumbuhan lapangan kerja formal tidak mampu mengimbangi lonjakan jumlah pencari kerja setiap tahun.
Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Timboel Siregar, mengatakan penumpukan pencari kerja merupakan konsekuensi yang sulit dihindari ketika penciptaan lapangan kerja berjalan lambat.
"Memang secara internasional maupun secara nasional, pembukaan lapangan kerja tidak terlalu besar. Banyak faktor yang memengaruhi, baik geopolitik internasional maupun kebijakan lokal di Indonesia," kata Timboel kepada Suara.com, Senin (22/6/2026).
Timboel menjelaskan, jumlah pencari kerja di Indonesia terus bertambah sekitar 2 juta hingga 3 juta orang setiap tahun. Mereka berasal dari lulusan SMA, perguruan tinggi, korban pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga peserta magang yang belum terserap pasar kerja.
Di sisi lain, ketersediaan pekerjaan formal masih sangat terbatas. Menurut Timboel, meskipun Indonesia mampu membuka sekitar 2,5 juta lapangan kerja, sebagian besar justru berada di sektor informal.
"Sementara yang mengantre ini adalah pekerjaan formal, yang memang juga di luar negeri, di Malaysia, pekerjaan formal itu sangat sedikit sekarang," imbuhnya.
Ia memaparkan, dalam periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025 tercipta sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru di Indonesia. Namun, hanya sekitar 200 ribu di antaranya merupakan pekerjaan formal, sedangkan sekitar 1,6 juta lainnya berada di sektor informal.
Kondisi tersebut, kata Timboel, berpotensi memicu penumpukan pencari kerja dari tahun ke tahun apabila tidak diimbangi dengan ekspansi industri dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Baca Juga: PKB Heran Jokowi Mendadak Lempar Wacana Prabowo-Gibran 2 Periode: Kemajon!
Menurut dia, perlambatan pembukaan lapangan kerja turut dipengaruhi berbagai faktor ekonomi dan kebijakan. Sejumlah investor, kata Timboel, masih memilih bersikap wait and see sebelum melakukan ekspansi usaha di Indonesia.
Selain itu, suku bunga acuan Bank Indonesia yang masih berada di level 5,75 persen juga dinilai membuat biaya pinjaman dunia usaha semakin tinggi.
"Jadi artinya lapangan kerja yang dibuka juga terbatas, kemudian pencari kerjanya menumpuk, tiap tahun meningkat 2-3 juta. Jadi kalau dibilang itu terjadi gak penumpukan? Ya akan terjadi," ucap Timboel.
Meski demikian, ia menilai penumpukan pencari kerja dapat ditekan apabila pemerintah mampu memperbesar pembukaan lapangan kerja formal dan memperluas akses masyarakat terhadap proses rekrutmen yang lebih mudah dan transparan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Raih Apresiasi Hari Anak Nasional, Tegaskan Komitmen Bangun Generasi Emas
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Peran Dukung 100.000 Sultan Muda, Perluas Inklusi Keuangan Sumsel
-
El Nino 2026 Lampaui Level Kuat, Abdul Azis Desak Pemerintah Serius Atasi Kekeringan
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Kemitraan Strategis dengan Pemkab Lahat, Dukung Akselerasi Ekonomi Daerah
-
6 Fakta Pemecatan dan Sanksi Pungli 4 ASN di Pemprov Banten
-
Usut Mutilasi Depok, Polisi Temukan HP Pelaku Tergabung dalam Grup Komunitas Gay
-
Macet Jalur Bojonegara Bikin Sopir Angkot Merugi, Pemprov Banten Janjikan Keputusan Baru 4 Hari Lagi
-
Tumbangkan Persib Bandung, Persebaya Surabaya Juara Piala Presiden 2026
-
KPK Bedah Dugaan Permainan Jalur Hijau dan Jalur Merah di Kasus Suap Bea Cukai
-
74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek