Bisnis / Energi
Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:04 WIB
IESR menyatakan bahwa krisis pasokan batubara domestik menyebabkan pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Indonesia. Foto: Warga Kabupaten Bandung, Jawa Barat menyalakan lilin akibat pemadaman bergilir pada Juni 2026. [Antara]
Baca 10 detik
  • IESR menyatakan bahwa krisis pasokan batubara domestik menyebabkan pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Indonesia.
  • Penurunan kuota RKAB pertambangan tahun 2026 menjadi pemicu utama berkurangnya volume batubara untuk memenuhi kebutuhan Domestic Market Obligation.
  • Kondisi ini membuktikan PLTU tidak lagi stabil dan mendorong pemerintah segera mempercepat transisi menuju energi terbarukan yang kompetitif.

Suara.com - Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai pemadaman listrik bergilir yang sempat melanda sejumlah wilayah baru-baru ini menunjukkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kini memiliki sifat intermiten. Kondisi tersebut terjadi akibat seretnya pasokan batubara domestik untuk hulu pembangkit.

Manajer Riset dan Transisi Berkeadilan IESR, Martha Jesica Solomasi Mandrofa, menyatakan salah satu pemicu utama kelangkaan batubara di dalam negeri adalah penurunan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan pada tahun 2026.

"Kalau dari pengamatan IESR, salah satu alasan terbesarnya karena kurangnya pasokan batubara untuk PLTU, terutama dampak dari penurunan RKAB di tahun 2026 ini. Walaupun itu dibantah, tapi kita tunggu apa alasan sebenarnya," kata Martha di Jakarta yang dikutip pada Jumat (26/6/2026).

Menurut Martha, pembatasan RKAB awalnya ditujukan untuk menjaga harga batubara agar tetap bersaing di pasar internasional. Namun, dampaknya justru menekan volume pasokan untuk kebutuhan domestik atau Domestic Market Obligation (DMO).

IESR menyatakan bahwa krisis pasokan batubara domestik menyebabkan pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Indonesia. Foto: Dua orang anak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat sedang mengaji menggunakan penerangan lilin akibat pemadaman bergilir pada Juni 2026. [Antara]

Situasi ini dinilai membalikkan asumsi bahwa PLTU selalu bisa menjadi penyedia listrik beban dasar (baseload) yang stabil. Ketika cadangan komoditas fosilnya menipis, performa PLTU dinilai sama tidak konsistennya dengan energi terbarukan yang bergantung pada faktor cuaca.

"Kita jadi belajar banyak, kami melihatnya PLTU bisa menjadi intermiten juga kalau cadangan batu baranya berkurang. Kekurangan pasokan domestik membuat kondisi PLTU ini seolah-olah intermiten," jelasnya.

Martha menambahkan, rentetan pemadaman kelistrikan ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah dalam memetakan pengadaan pembangkit ke depan. Dengan dinamika rantai pasok saat ini, PLTU tidak bisa lagi diklaim sebagai solusi energi paling murah.

"Sinyal dari kondisi saat ini memperlihatkan bahwa transisi energi bukan lagi hanya soal menekan emisi, melainkan karena sisi ekonomis energi terbarukan yang sekarang sudah semakin bersaing," pungkas Martha.

Baca Juga: Ramai Isu PLTU Jawa Kehabisan Batu Bara-Banyak Mati Lampu, Jubir Bahlil: Memang Ada Gangguan Teknis

Load More