Bisnis / Keuangan
Minggu, 28 Juni 2026 | 22:02 WIB
Ilustrasi - Petugas menata emas batangan di Setiabudi, Jakarta. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc)
Baca 10 detik
  • Harga emas global dan domestik diproyeksikan sangat fluktuatif sepanjang pekan depan akibat ketegangan geopolitik serta kebijakan moneter The Fed.
  • Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memetakan level dukungan dan resistensi emas dunia serta harga emas batangan Antam.
  • Kondisi pasar dipengaruhi oleh konflik Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, peta politik Amerika Serikat, dan tren suku bunga tinggi.

Suara.com - Pergerakan harga emas global maupun domestik diproyeksikan bakal memasuki fase dinamis dengan kecenderungan fluktuatif yang tinggi sepanjang pekan depan.

Berbagai sentimen makro, mulai dari ketegangan geopolitik lintas kawasan, eskalasi perang dagang, dinamika politik internal Amerika Serikat (AS), hingga arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed), menjadi pendorong utama volatilitas komoditas safe haven ini.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menguraikan bahwa apabila tekanan pasar memicu koreksi teknis, level support pertama untuk emas global diperkirakan berada di angka US$ 3.959 per troy ounce.

Jika pelemahan berlanjut, titik target penurunan berikutnya atau support kedua diprediksi menuju kisaran US$ 3.786 per troy ounce.

Sebaliknya, peluang rebound atau penguatan masih terbuka cukup lebar. Ibrahim memproyeksikan area resistance pertama berada di posisi US$ 4.175 per troy ounce.

Jika momentum akumulasi beli kembali menguat, harga emas dunia berpotensi mengejar target resistance kedua di level US$ 4.344 per troy ounce.

Berdasarkan analisis situasional, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi pergerakan instrumen investasi ini ke depan:

  • Tensi Militer di Timur Tengah: Situasi memanas setelah militer Iran dilaporkan melepaskan tembakan ke arah sebuah kapal tanker yang dinilai melanggar navigasi. Kendati demikian, Selat Hormuz dipastikan tetap beroperasi normal sehingga gejolak harga minyak mentah diredam agar tidak melonjak terlalu ekstrem.
  • Krisis Eropa Timur: Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina masih berlanjut, ditandai dengan serangan konstan ke arah ibu kota Kyiv. Meski begitu, pelaku pasar juga mencermati adanya sinyalemen rencana perundingan terkait gencatan senjata antar kedua belah pihak.
  • Peta Politik dan Perang Dagang AS: Pasar berspekulasi mengenai potensi dominasi Partai Republik di parlemen AS, yang diprediksi memperkuat kembali poros kebijakan proteksionisme ekonomi Donald Trump. Isu tarif impor tetap menjadi perhatian utama, sekalipun Mahkamah Konstitusi AS sebelumnya sempat menetapkan kebijakan bea masuk tersebut tidak sah secara hukum.
  • Proyeksi Suku Bunga The Fed: Rilis data pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi AS yang menunjukkan performa positif memberikan indikasi kuat bahwa bank sentral masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di level tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Proyeksi Harga Emas Batangan Antam (ANTM)

Secara domestik, fluktuasi harga emas dunia dipastikan langsung berimbas pada perdagangan emas batangan produksi PT Antam Tbk (ANTM) mulai Senin (29/6/2026).

Baca Juga: Kaesang Jadi Magnet Baru PSI, Survei LPI Ungkap Alasan Anak Muda Mulai Melirik

Ibrahim Assuaibi memaparkan simulasi pergerakan harga Antam sebagai berikut:

  • Skenario Koreksi: Jika harga terkonsolidasi ke bawah, titik support awal diproyeksikan berada di level Rp 2.640.000 per gram, dengan batas pertahanan kedua di angka Rp 2.530.000 per gram.
  • Skenario Penguatan: Bila grafik berbalik arah naik, target resistance terdekat dibidik pada level Rp 2.680.000 per gram, dengan potensi akselerasi lanjutan menuju resistance kedua di posisi Rp 2.750.000 per gram.

Sebagai catatan historis, posisi harga retail emas Antam per Sabtu (27/6/2026) ditutup menguat sebesar Rp 5.000 ke posisi Rp 2.660.000 per gram, setelah pada perdagangan hari Jumat (26/6/2026) sempat tertahan di level Rp 2.655.000 per gram.

Sepanjang tahun berjalan (YTD) 2026, emas Antam secara akumulatif masih menorehkan performa positif dengan pertumbuhan sebesar 6,91 persen dibandingkan posisi awal Januari 2026 yang kala itu berada di angka Rp 2.488.000 per gram.

Kendati demikian, harga saat ini masih berjarak cukup jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang sempat tercapai di level Rp 3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026 lalu. Sementara itu, untuk harga pembelian kembali atau buyback oleh pihak Antam terpantau melonjak signifikan sebesar Rp 38.000 menjadi Rp 2.378.000 per gram.

Disclaimer: Ulasan mengenai pergerakan teknikal , simulasi harga support dan resistance emas global maupun Antam (ANTM), serta analisis sentimen ekonomi makro ini diproduksi semata-mata sebagai produk jurnalistik informasi finansial publik. Konten artikel ini tidak merepresentasikan bentuk ajakan, rekomendasi final, atau panduan transaksi komersial untuk membeli maupun menjual komoditas dan saham tertentu. Setiap keputusan penempatan dana investasi merupakan tanggung jawab mandiri pembaca secara penuh.

Load More