- IHSG turun 1,28%, investor diajak manfaatkan momentum koreksi.
- Valuasi IHSG disebut sudah setara level krisis COVID-19.
- RATU tuntaskan akuisisi US$141 juta, agresif ekspansi aset migas.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan di tengah tekanan pasar yang belum mereda. Pada perdagangan Senin (29/6/2026), IHSG ditutup melemah 1,28% ke level 5.820 setelah sebelumnya sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi harian 5.942.
Pelemahan tersebut memperpanjang tren koreksi dalam beberapa hari terakhir seiring masih kuatnya sentimen global yang membayangi pasar keuangan. Aksi jual mendominasi sebagian besar saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Di tengah kondisi tersebut, PT Sucor Sekuritas justru melihat koreksi pasar sebagai momentum untuk memperkuat edukasi investor. Melalui program S-Talks yang digelar bersama komunitas Belimbing Stocks di Jakarta, perusahaan mengajak investor lebih fokus pada analisis fundamental dibanding terpancing gejolak pasar jangka pendek.
Kegiatan tersebut menghadirkan kelas fundamental, paparan mengenai kondisi pasar terkini dari tim Sucor Sekuritas, hingga presentasi langsung dari manajemen PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Dalam sesi itu, investor diajak memahami cara membaca laporan keuangan emiten, prospek bisnis, hingga strategi ekspansi perusahaan.
CEO Komunitas Belimbing Stocks William Setiawan mengatakan situasi pasar yang sedang berfluktuasi justru menjadi waktu yang tepat bagi investor untuk memperkuat pemahaman mengenai fundamental perusahaan.
"Di tengah kondisi pasar yang sedang berfluktuasi, sesi seperti ini menjadi sangat relevan. Memahami bisnis secara fundamental adalah kunci agar investor tidak mudah terbawa sentimen pasar jangka pendek," ujarnya.
William menilai IHSG saat ini sedang bergerak di fase konsolidasi pada area support 5.700-6.000. Menurutnya, tekanan jual mulai berkurang yang tercermin dari volume transaksi harian yang semakin menyusut.
Ia bahkan menyebut valuasi pasar saham Indonesia kini telah kembali ke level yang pernah terjadi saat krisis pandemi COVID-19. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk mulai mengoleksi saham-saham berkualitas.
"Valuasi indeks kita saat ini sudah berada di level krisis COVID. Bahkan di beberapa emiten unggulan, valuasinya sudah di bawah level krisis terakhir. Ditambah ada beberapa IPO yang cukup menarik seperti JELI dan PRDL, ini justru bisa menjadi momentum yang baik bagi investor yang berani masuk dengan perspektif jangka panjang," katanya.
Baca Juga: MUTU Umumkan Private Placement Rp 29,9 Miliar, Incar Ekspansi Bisnis Karbon
Dalam kesempatan yang sama, manajemen RATU memaparkan perkembangan ekspansi bisnis perseroan. Perusahaan baru saja menyelesaikan akuisisi participating interest (PI) sebesar 20% di Madura Strait PSC yang dioperasikan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML).
Nilai transaksi tersebut mencapai US$ 141,21 juta yang dilakukan melalui anak usaha PT Raharja Energi Madura (REM). Dengan rampungnya transaksi tersebut, seluruh manfaat ekonomi dari kepemilikan 20% di HCML sejak 1 Januari 2026 akan masuk ke laporan keuangan konsolidasian RATU mulai kuartal II-2026.
Dari sisi kinerja, RATU membukukan pendapatan sebesar US$ 10,86 juta pada kuartal I-2026 atau turun 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih juga terkoreksi 20% menjadi US$ 4,78 juta akibat volume lifting yang lebih rendah serta meningkatnya biaya keuangan setelah penerbitan obligasi Rp800 miliar.
Meski demikian, perseroan masih mampu menjaga efisiensi operasional. Adjusted EBITDA tercatat sebesar US$ 7,53 juta, sementara total aset melonjak menjadi US$ 130,2 juta dari sebelumnya US$ 76 juta pada akhir 2025 seiring agresifnya ekspansi portofolio.
Sejak melantai di BEI pada Januari 2025, RATU terus mencatatkan berbagai pencapaian. Emiten energi tersebut berhasil masuk MSCI Small Cap Index dan IDX80, memperoleh peringkat idA dari Pefindo, menerbitkan obligasi Rp800 miliar, membagikan dividen tunai Rp45 per saham, serta menyelesaikan sejumlah akuisisi aset migas.
Sucor Sekuritas menilai kolaborasi dengan komunitas investor dan emiten menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem investasi yang lebih sehat dan berbasis analisis fundamental. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu investor mengambil keputusan secara rasional di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Cara Menghasilkan Uang dari HP untuk Menambah Pemasukan Keluarga
-
Dukung Kompetensi Jurnalisme, Pegadaian Kembali Gelar UKW untuk Ratusan Wartawan Indonesia
-
Impor Migas Indonesia Meroket 70 Persen, Tembus Rp 70 Triliun Lebih dalam Sebulan
-
Harga Emas Lokal Diprediksi Makin Merana Pekan Ini
-
Syarat dan Cara Driver Ojol Ajukan Pinjaman KUR, Bisa Dapat Ratusan Juta
-
B50 Resmi Diterapkan, Gapki Sebut Tak Ada Kendala Pasokan CPO
-
Dana SAL Mau Ditarik, Bos BSI Ingatkan Jangan Mendadak agar Pasar Tak Bergejolak
-
Musim Masuk Sekolah Bikin Ritel Bergairah, Penjualan Sepatu Meningkat
-
Bukannya Senang, Driver Ojol Justru Kecewa Kebijakan Potongan 8%
-
Pajak Marketplace Resmi Berlaku, DJP Bidik Penerimaan Negara Tembus Rp 24 Triliun