- Harga minyak mentah WTI melemah ke level 68,47 dolar AS per barel pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026.
- Penyebab utama penurunan adalah membaiknya pasokan fisik dari kawasan Teluk dan indikasi kelebihan pasokan di pasar global.
- Investor tetap mewaspadai risiko geopolitik akibat ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat 3 Juli 2026, seiring membaiknya pasokan fisik dan adanya indikasi kelebihan pasokan (oversupply) dalam jangka pendek.
Meski demikian, penurunan harga sedikit tertahan karena para investor mulai mengurangi posisi bearish mereka menjelang libur panjang akhir pekan di Amerika Serikat (AS).
Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terpantau turun 0,32 persen ke level 68,47 dolar AS per barel pada pukul 01.19 GMT (08:19 WIB). Sementara itu, minyak mentah Brent belum memulai perdagangan.
Tren penurunan harga ini berlanjut setelah para pelaku pasar terus menghapus premi risiko geopolitik yang sempat melonjak selama konflik Iran.
Membaiknya arus pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk memperkuat proyeksi bahwa pasokan jangka pendek akan tetap melimpah.
Di sisi lain, rilis data lapangan pekerjaan AS yang lebih rendah dari perkiraan turut meredam spekulasi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS (The Fed).
Kondisi ini membuat indeks dolar AS bergerak stabil, sehingga mampu menahan kejatuhan harga yang lebih dalam di pasar komoditas.
Para investor juga terus memantau perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump, menyatakan optimismenya bahwa diskusi berjalan ke arah yang benar dan meyakini Iran telah menyetujui hampir semua poin yang diajukan AS.
Namun, laporan dari Wall Street Journal menunjukkan dinamika yang berbeda. Teheran dikabarkan menolak proposal untuk melepaskan klaim mereka atas Selat Hormuz.
Baca Juga: Minyak Dunia Stabil, Ekspor Minyak Arab Saudi Pulih: Harga BBM Bakal Turun Lagi?
Padahal, AS telah menawarkan insentif berupa pelonggaran sanksi ekonomi dan pencairan dana Iran senilai miliaran dolar yang selama ini dibekukan, demi menjamin kelancaran jalur pelayaran di selat strategis tersebut.
Sinyal yang saling bertolak belakang ini membuat risiko geopolitik tetap diwaspadai oleh para pelaku pasar, meskipun kekhawatiran akan adanya gangguan pasokan minyak dari Teluk mulai mereda.
Lembaga keuangan ANZ mencatat bahwa penumpukan posisi short (kontrak jual) menjadi pemicu utama melemahnya harga minyak berjangka belakangan ini.
ANZ juga menyoroti bahwa kurva berjangka Brent saat ini berada dalam kondisi contango—sebuah situasi di mana harga spot (saat ini) lebih rendah daripada harga kontrak jangka panjang.
Kondisi ini menjadi indikasi kuat bahwa pasar sedang mengantisipasi terjadinya kelebihan pasokan dalam waktu dekat.
Pandangan tersebut diperkuat oleh pulihnya arus lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz, serta volume ekspor Arab Saudi yang kini telah kembali ke level 90 persen dibanding tingkat ekspor sebelum Februari lalu.
Penurunan harga minyak ini pada akhirnya merangsang aksi beli dari sejumlah kilang independen di China, yang juga didukung oleh kebijakan harga yang lebih fleksibel dari Arab Saudi dan Kuwait.
Kendati demikian, ANZ menambahkan bahwa Iran masih kesulitan memasarkan minyak mentahnya.
Berdasarkan data dari Vortexa, lebih dari 58 juta barel minyak Iran saat ini masih tertahan di tangki penyimpanan terapung (floating storage), dan 90 persen di antaranya belum mendapatkan pembeli.
Berita Terkait
-
Asumsi ICP 2027 Dinaikkan Mas Bahlil, Paling Tinggi 95 Dolar AS/Barel
-
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Harga Pertamax Turun?
-
AS-Iran Damai: Pasar Melesat, Harga Minyak Diprediksi Terus Turun ke Level 70 Dolar
-
AS - Iran Sepakat Damai: Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Dunia Anjlok
-
BBM di AS Turun Imbas Minyak Dunia Anjlok, Gimana Harga Pertamax?
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Level Rp17.952
-
Jangan Borong, Harga Emas Antam Terus Meroket Jadi Rp2.651.000/Gram
-
IHSG Mulai Betah di Zona Hijau, Pagi Bergerak di Level 5.800-an
-
Dari Ratusan Perusahaan, Mengapa Danantara Hanya Buka Kinerja 11 BUMN?
-
Update Harga Emas di Pegadaian Hari Ini: Antam, UBS, dan Galeri 24 Bisa Diborong!
-
Bukan Sekadar Dipangkas, Ini Alasan 240 BUMN Dikonsolidasikan
-
Minyak Dunia Stabil, Ekspor Minyak Arab Saudi Pulih: Harga BBM Bakal Turun Lagi?
-
CIMB Niaga Bidik Nasabah Keluarga untuk Perluas Layanan Keuangan Digital
-
Tekanan Pasar Tenaga Kerja AS Mereda, Investor Saham Bisa Lebih Tenang?
-
Warisan Jokowi Kena 'Semprit', Purbaya Sebut IKN Terlalu Sepi untuk Investor Global