Bisnis / Energi
Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:44 WIB
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lahan bekas tambang (Tom Fisk/Pexels)
Baca 10 detik
  • Lahan pascatambang milik PTBA akan dimanfaatkan sebagai proyek PLTS.
  • Proyek ini bertujuan mengoptimalkan lahan bekas tambang menjadi pusat energi bersih guna mendukung target nasional 100 GW pada 2029.
  • Kolaborasi strategis ini diharapkan mampu meningkatkan komponen dalam negeri, memperkuat ekosistem industri, serta mendukung target Net Zero Emission Indonesia.

Suara.com - Lahan bekas tambang milik PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bakal dimanfaatkan sebagai lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) dengan PTBA untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan sekaligus mendukung target pembangunan PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW) pada 2029.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Pertamina NRE dan PTBA pada Kamis (2/7) di Kantor Pusat PTBA, Jakarta.

Melalui kolaborasi tersebut, kedua perusahaan akan mengembangkan proyek PLTS dengan memanfaatkan area operasional dan lahan pascatambang milik PTBA. Langkah ini diharapkan mampu mengubah aset bekas tambang menjadi pusat pengembangan energi bersih nasional.

Corporate Secretary Pertamina New & Renewable Energy, Sri Nur Hidayati, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk mempercepat pengembangan energi hijau sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Ilustrasi PLTS . [Dok Pertamina NRE].

Menurutnya, percepatan transisi energi membutuhkan sinergi yang mampu mengintegrasikan pengembangan proyek, kesiapan ekosistem industri, hingga peningkatan kapasitas nasional dalam memenuhi kebutuhan energi bersih yang terus meningkat.

"Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan proyek-proyek energi hijau yang berkelanjutan, tetapi juga mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), memperkuat ekosistem industri nasional, serta membuka peluang pendanaan hijau untuk mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia," ujar Sri Nur Hidayati di Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Dalam nota kesepahaman tersebut, Pertamina NRE dan PTBA menyepakati ruang lingkup kerja sama yang dimulai dari identifikasi lokasi proyek, dilanjutkan dengan studi kelayakan (feasibility study) dari sisi teknis maupun finansial.

Setelah itu, kedua perusahaan akan mengevaluasi model kerja sama sebelum masuk ke tahap pengembangan proyek secara penuh.

Baca Juga: PLN Bakal Sulap 802 Km Tol Jasa Marga Jadi Ladang Energi Surya

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PT Bukit Asam, Turino Yulianto, mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mengembangkan konsep "Sustainability Through Technology" melalui optimalisasi aset negara.

Menurutnya, penguasaan teknologi yang dimiliki Pertamina NRE diharapkan mampu menjawab tantangan penurunan emisi karbon tanpa mengorbankan ketahanan energi maupun pertumbuhan ekonomi nasional.

"Melalui kerja sama dengan PT Pertamina New & Renewable Energy, kami melihat peluang besar untuk mengoptimalkan asset nasional yang dimiliki PTBA, termasuk pemanfaatan lahan pascatambang sebagai kawasan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) maupun berbagai potensi renewable energy lainnya yang dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan," kata Turino.

PTBA menilai pemanfaatan lahan pascatambang yang telah direklamasi dan direhabilitasi menjadi kawasan pengembangan PLTS akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan sekaligus mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia.

Sinergi antara Pertamina NRE dan PTBA juga diharapkan menjadi contoh kolaborasi antar-BUMN dalam mengoptimalkan aset negara untuk mendukung transisi energi menuju sistem energi yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.

Melalui proyek tersebut, ribuan hektare lahan pascatambang yang selama ini tidak lagi digunakan untuk aktivitas pertambangan berpotensi ditransformasikan menjadi pusat pembangkitan energi surya, sekaligus memperluas portofolio energi hijau nasional dan mempercepat pencapaian target pengembangan PLTS 100 GW pada 2029.

Load More