- Gempa Flores M7,7, Sumatra Utara M6,4, dan Parigi Moutong M5,9 terjadi secara beruntun dalam waktu kurang dari 19 jam pada 15 Agustus lalu.
- Pakar gempa Daryono menyatakan ketiga peristiwa tersebut tidak saling berkaitan dan merupakan fenomena kebetulan statistik yang disebut earthquake clustering.
- Ketiga gempa berasal dari sistem tektonik terpisah dengan mekanisme deformasi berbeda, sehingga tidak ada transfer tegangan yang memicu kejadian tersebut.
Suara.com - Gempa Flores dengan kekuatan M7,7 pada 15 Agustus lalu uniknya disusul oleh dua gempa besar lainnya, yakni gempa Sumatra Utara dengan kekuatan M6,4 dan gempa Parigi Moutong, Sulawesi berkekuatan M5,9. Tiga gempa ini terjadi dalam tempo 18 jam 26 menit 57 detik.
Tiga gempa yang terjadi beruntun ini memantik spekulasi bahwa gempa-gempa tersebut saling berkaitan. Bahkan ada yang bilang, dua gempa terakhir dipicu oleh gempa pertama. Tapi benarkah demikian?
Pakar gempa dan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia Daryono menegaskan tiga gempa tersebut tidak saling berkaitan.
"Dari kacamata fisika bumi, fenomena ini dikenal sebagai earthquake clustering, sebuah kebetulan statistik di mana beberapa kejadian gempa independen terjadi berdekatan dalam kurun waktu tertentu tanpa adanya ikatan kausalitas langsung," jelas Daryono pada Senin (17/8/2026).
Ia mengatakan secara statistik acak, gempa independen yang berasal dari segmen tektonik berbeda dapat melepaskan energi dalam jendela waktu berdekatan semata-mata karena kebetulan.
Setiap sumber gempa memiliki siklus pengumpulan energi (stress accumulation) dan masa pelepasan energi (recurrence interval) masing-masing.
"Ketika dua atau lebih segmen yang berjauhan kebetulan mencapai titik jenuh (failure threshold) pada waktu yang hampir bersamaan, kejadian gempa akan tampak seperti mengelompok, padahal tidak keterikatan fisik atau mekanisme saling picu di antara mereka," tegas dia.
Secara tektonik dan mekanika batuan, beber Daryono, ketiga gempa (Flores, Sumut, dan Sulteng) ini berakar dari sistem penunjaman dan struktur yang sepenuhnya terpisah, serta beroperasi dengan mekanisme deformasi yang berbeda.
Gempa Flores (M7,7) merupakan gempa dangkal dengan kedalaman 15 km yg dipicu oleh aktivitas sesar aktif naik Flores (Flores back-arc thrust).
Baca Juga: Purbaya Siapkan Rp 5 Triliun buat Bencana Gempa NTT, Siap Tambah Anggaran Jika Kurang
Sementara gempa Sumatra Utara (M6,7; kedalaman 172,5 km) dan gempa Parigi Moutong (M5,7; kedalaman 72,5 km) dipicu oleh intraslab deformation, yakni deformasi internal pada slab lempeng tektonik yg menunjam ke dalam lapisan astenosfer, bukan akibat pergeseran patahan di kerak dangkal.
Dalam seismologi, interaksi antargempa umumnya ditinjau melalui transfer tegangan (stress transfer). Konsep transfer tegangan statik (static stress trigger) dipastikan tidak bekerja pada kasus ini karena radius perubahan medan Coulomb failure stress akibat gempa Flores sangat terbatas dan menurun drastis seiring bertambahnya jarak, sehingga tidak mampu menjangkau zona Sumatra Utara maupun Sulawesi Tengah yang berjarak ratusan hingga ribuan kilometer.
Sementara itu, hipotesis transfer tegangan dinamik (dynamic stress trigger) melalui rambatan gelombang seismik permukaan (surface waves) memang diakui secara teoritis dapat merentang jauh, namun hingga saat ini belum ada konsensus maupun bukti empiris yang valid dalam ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa perambatan gelombang tersebut mampu memicu rupture besar pada zona subduksi terpisah secara serta-merta.
"Setiap zona tektonik di Indonesia beroperasi sebagai otoritas lokal yang mandiri dengan rezim tektoniknya masing-masing. Masing-masing segmen sumber gempa memiliki laju akumulasi medan tegangan (stress accumulation rate) dan periode ulang (recurrence interval) yang independen," ia melanjutkan..
"Kejadian ketiga gempa besar ini dalam satu hari yg sama murni merupakan kebetulan waktu (temporal coincidence) dari proses siklus seismik yang telah berjalan puluhan hingga ratusan tahun di masing-masing segmen tektonik," tutup Daryono.
Berita Terkait
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi
-
Lanud Seluruh Indonesia Bakal jadi Posko Gempa NTT, Hercules Siap Angkut Bantuan
-
BBM Mulai Normal, 47 SPBU di Flores Kembali Beroperasi Setelah Gempa
-
PNM Peduli Bergerak Cepat Bantu Korban Gempa di Nusa Tenggara Timur
-
Pelabuhan Maumere Tetap Layani Kapal Ro-Ro dan Penumpang
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi
-
5 Sabun Cuci Muka untuk Bruntusan di Dahi dan Pipi, Lengkap dengan Ulasan Pengguna
-
Prabowo-Gibran Kompak Pakai Beskap, Pimpin Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan di Monas
-
Dari Bundaran HI, Warga Titip Harapan untuk Indonesia di HUT Ke-81 RI
-
KPK Tak Sanksi Etik Setya Budi Dias di Kasus Pemerasan Bupati Pemalang, Ini Alasannya
-
Lanud Seluruh Indonesia Bakal jadi Posko Gempa NTT, Hercules Siap Angkut Bantuan
-
Kisah BGS: Merdeka dari Balik Jeruji, Bawa 'Ilmu' Ternak Ayam dari Penjara untuk Mulai Hidup Baru