Bisnis / Keuangan
Selasa, 21 Juli 2026 | 13:29 WIB
Analis memprediksi nilai tukar rupiah stabil di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS pada triwulan ketiga tahun ini. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Analis memprediksi nilai tukar rupiah stabil di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS pada triwulan ketiga tahun ini.
  • Bank Indonesia berupaya memperkuat rupiah melalui kenaikan suku bunga acuan serta kebijakan intervensi pasar untuk menekan aktivitas spekulasi.
  • Pemerintah perlu mewaspadai risiko pelemahan rupiah akibat kenaikan harga minyak dunia serta potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia.

Suara.com - Nilai tukar rupiah diramalkan mulai stabil dan akan bertahan di bawah Rp18.000 per dolar AS pada triwulan III ini, demikian dikatakan sejumlah analis seperti dilansir dari Bloomberg awal pekan ini.

Para analis dari Credit Agricole CIB, sebuah bank raksasa Eropa, mengatakan Bank Indonesia akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah dengan kembali menaikkan suku bunga acuan serta melakukan intervensi di pasar. Mereka meramalkan kurs rupiah akan stabil di kisaran 17.850 per dolar AS.

Sementara Bank Julius Baer asal Swiss yakin rupiah akan semakin menguat hingga mencapai Rp17.800 per dolar AS pada Kuartal III ini.

"Rupiah akan semakin stabil di Kuartal III berkat penaikkan suku bunga oleh BI dan pengetatan kebijakan untuk menekan aktivitas spekulan," kata Jeffrey Zhang, analis dari Credit Agricole.

"Kami yakin BI akan tetap hawkish di paruh kedua tahun ini untuk menjaga agar aset-aset rupiah tetap menarik bagi investor," imbuh Zhang.

Tanda-tanda penguatan rupiah disebut sudah terlihat. Nilai tukar mata uang garuda menguat sekitar 1,3 persen sejak merosot ke rekor terendah di level 18.190 per dolar AS bulan lalu.

Volatilitas implisit tiga bulanan rupiah dan dolar AS juga turun 115 basis poin menjadi 6,78 persen dari sebelumnya 7,93 persen pada periode tersebut - ini artinya yang mengindikasikan berkurangnya ketidakpastian dalam jangka pendek.

Sementara itu BI diramalkan akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu besok, meski sebagian analis meramalkan bank sentral akan tetap mempertahankan suku bunga di 5,75 persen.

Meski demikian pemerintah Presiden Prabowo Subianto diminta untuk tidak terlena. Rupiah masih berisiko melemah jika pemerintah tak bijak mengelola tekanan akibat naiknya harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah yang kini kembali memanas.

Baca Juga: Likuiditas Masih Melimpah, Perbankan Masih Leluasa Salurkan Kredit

Selain itu rupiah juga akan terpengaruh oleh review klasifikasi pasar saham Indonesia dari penyedia indeks MSCI dan S&P Dow Jones Indices pada akhir tahun nanti. Penurunan status oleh MSCI ke frontier market dapat memicu aliran dana keluar dan berpotensi memberikan tekanan lebih lanjut pada rupiah.

Load More