Bisnis / Keuangan
Rabu, 22 Juli 2026 | 14:20 WIB
Kenaikan suku bunga acuan oleh BI berisiko meningkatkan biaya dana industri keuangan, menaikkan bunga KPR, serta menekan permintaan rumah. [Antara]
Baca 10 detik
  • Chief Economist PT SMF Martin Daniel Siyaranamual memproyeksikan BI Rate berpotensi naik hingga mencapai 6,75 persen pada akhir tahun 2026.
  • Kebijakan agresif menaikkan suku bunga acuan tersebut bertujuan memperkuat nilai tukar rupiah dan menarik aliran modal asing masuk ke Indonesia.
  • Kenaikan suku bunga acuan berisiko meningkatkan biaya dana industri keuangan, menaikkan bunga KPR, serta menekan permintaan rumah.

Suara.com - Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) diperkirakan naik hingga akhir tahun ini. Kenaikan tersebut diproyeksikan akan mendorong biaya dana (cost of fund) industri keuangan, termasuk bunga kredit pemilikan rumah (KPR), sehingga permintaan rumah berisiko melambat.

Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF Martin Daniel Siyaranamual memperingatkan kenaikan suku bunga acuan oleh BI akan membuat cicilan KPR semakin berat bagi para konsumen, meski di satu sisi kebijakan tersebut diperlukan untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

Martin memproyeksikan BI Rate berpotensi mencapai 6,75 persen pada akhir 2026. Meski demikian, dalam skenario yang lebih moderat, kenaikan suku bunga diperkirakan berada di kisaran 50 hingga 75 basis poin sehingga BI Rate berakhir di level sekitar 6,25 persen.

Menurut Martin, tekanan terhadap nilai tukar rupiah membuat Bank Indonesia harus mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif melalui kenaikan BI Rate untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik.

"Posisi hari ini masih di mungkin di sekitar angka Rp18.000 atau mendekati Rp18.000. Nah, poinnya hari ini Bank Indonesia harus lebih agresif," kata Martin di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan BI Rate bertujuan menarik aliran modal asing agar investor menempatkan dananya di Indonesia. Dengan begitu, permintaan terhadap rupiah meningkat sehingga tekanan terhadap nilai tukar dapat berkurang.

"Lebih agresifnya ditunjukkan dengan BI Rate. BI Rate-nya, kemungkinan besar, kalau berdasarkan proyeksi kami, di akhir tahun 2026 ini, itu akan mencapai posisi di 6,75 persen," ujarnya.

Martin mengakui proyeksi tersebut merupakan skenario yang relatif pesimistis. Dalam kondisi yang lebih moderat, ia memperkirakan BI Rate hanya naik dua hingga tiga kali lagi atau sekitar 50 sampai 75 basis poin.

Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan akan berdampak langsung terhadap biaya dana yang ditanggung industri jasa keuangan.

Baca Juga: Ekonomi RI Baik-baik Saja, Buktinya Aktivitas Bisnis di Dalam Negeri Meningkat

"Implikasinya adalah cost of fund. Implikasinya adalah rate KPR ya pasti lebih mahal. Implikasinya apa? Implikasinya permintaan akan rumah, permintaan akan KPR itu pasti akan tertekan," ucapnya.

Ia mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan bagi industri pembiayaan perumahan, termasuk SMF. Sebab, kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) juga akan mendorong naik biaya penerbitan obligasi yang menjadi salah satu sumber pendanaan perusahaan pembiayaan.

Selain menghadapi tekanan dari kenaikan suku bunga, Martin menilai sektor perumahan juga dibayangi pelemahan daya beli masyarakat. Meski begitu, ia berharap perlambatan yang terjadi lebih bersifat siklikal, bukan mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi.

"Bagaimana mengambil posisi adaptif di tengah tantangan, itu yang sebetulnya menjamin keberlangsungan dari PT SMF," pungkasnya.

Load More