Bisnis / Makro
Minggu, 19 Juli 2026 | 12:59 WIB
Ilustrasi aktivitas industri manufaktur. [Dok Chandra Asri].
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia mencatat sektor industri pengolahan nasional berada pada fase ekspansi dengan skor PMI-BI 51,43 di kuartal II-2026.
  • Pertumbuhan manufaktur didukung oleh peningkatan volume produksi, persediaan barang jadi, serta total pesanan pada berbagai subsektor industri utama.
  • Bank Indonesia memproyeksikan aktivitas industri akan menguat pada kuartal III-2026 dengan estimasi kenaikan indeks PMI-BI menjadi 52,32.

Suara.com - Kinerja sektor industri pengolahan Indonesia tetap gencar ekspansi pada kuartal II-2026. Hal itu tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) yang berada di level 51,43, atau masih berada pada fase ekspansi karena berada di atas level 50.

Capaian PMI-BI kuartal II-2026 tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur nasional tetap tumbuh, didukung oleh peningkatan volume produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny, mengatakan hasil  tersebut menunjukkan aktivitas industri pengolahan nasional masih terjaga dan diperkirakan akan semakin menguat pada triwulan berikutnya.

"Kinerja Lapangan Usaha Industri Pengolahan pada kuartal II-2026 tetap terjaga dan berada pada fase ekspansi, tecermin dari PMI-BI sebesar 51,43. Pada kuaral III-2026, kinerja industri pengolahan diprakirakan meningkat dan tetap berada pada fase ekspansi dengan PMI-BI sebesar 52,32," ujar Ramdan dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (19/7/2026). 

Potret Pabrik Manufaktur (Pexels/Tom Fisk)

Kinerja positif ini juga memperkuat optimisme terhadap prospek sektor industri pengolahan sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan komponen pembentuknya, mayoritas indikator PMI-BI masih berada pada zona ekspansi. Komponen Volume Produksi, Volume Persediaan Barang Jadi, dan Volume Total Pesanan menjadi penopang utama kinerja industri sepanjang triwulan II 2026.

Sementara itu, dari sisi sublapangan usaha (Sub-LU), sebagian besar sektor juga mencatatkan ekspansi. Indeks tertinggi dibukukan oleh Industri Mesin dan Perlengkapan, disusul Industri Makanan dan Minuman, Industri Logam Dasar, serta Industri Barang Galian Bukan Logam.

Memasuki kuartal III-2026, Bank Indonesia memperkirakan PMI-BI meningkat menjadi 52,32, yang menandakan aktivitas manufaktur akan terus berekspansi dengan laju yang lebih kuat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Prospek tersebut didorong oleh peningkatan Volume Produksi, Volume Persediaan Barang Jadi, serta Volume Total Pesanan yang diperkirakan tetap tumbuh. Dari sisi subsektor, mayoritas Sub-LU diproyeksikan masih berada di zona ekspansi.

Baca Juga: Ekonomi RI Baik-baik Saja, Buktinya Aktivitas Bisnis di Dalam Negeri Meningkat

Adapun sektor yang diperkirakan mencatatkan indeks tertinggi pada kuartal III-2026 adalah Industri Mesin dan Perlengkapan, diikuti Industri Pengolahan Tembakau, Industri Logam Dasar, serta Industri Alat Angkutan.

Bank Indonesia menilai berlanjutnya fase ekspansi tersebut mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap permintaan domestik maupun prospek produksi pada paruh kedua 2026. Kondisi ini diharapkan dapat terus mendukung pertumbuhan sektor manufaktur sebagai kontributor utama perekonomian Indonesia.

Load More