Bisnis / Energi
Jum'at, 24 Juli 2026 | 10:16 WIB
Ilustrasi fasilitas minyak mentah dunia. [Pexels].
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia menguat pada Jumat 24 Juli 2026 akibat gangguan pasokan global.
  • Ancaman kelompok Houthi di Laut Merah dan penurunan produksi Kazakhstan memicu lonjakan harga.
  • Brent dan WTI mencatat kenaikan mingguan signifikan meskipun sempat mengalami koreksi tipis.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak menuju tren penguatan mingguan pada perdagangan Jumat 24 Juli 2026. Lonjakan ini dipicu oleh dua sentimen utama, ancaman terhadap jalur pelayaran vital di Laut Merah akibat aksi Houthi, dan penurunan mendadak produksi minyak di Kazakhstan.

Mengutip dari Reuters, meskipun minyak mentah jenis Brent sempat terkoreksi 72 sen atau 0,72 persen ke level 99,97 dolar AS per barel pada perdagangan pagi, harganya masih mencatatkan kenaikan mingguan hingga 13,5 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 70 sen atau 0,76 persen menjadi 91,49 dolar AS per barel, tetapi berada di jalur kenaikan mingguan sebesar 10,9 persen.

Sehari sebelumnya, Brent dan WTI melesat masing-masing 7 persen dan 6,2 persen. Lonjakan tersebut mengantarkan Brent menembus angka di atas 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, tak lama setelah kelompok Houthi mengklaim telah menggempur dua kapal tangker minyak milik Arab Saudi.

Ancaman penutupan Selat Bab el-Mandeb, jalur vital penghubung Laut Merah dan Samudra Hindia, menjadi pemicu utama kecemasan pasar. Selat ini merupakan rute distribusi minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.

Merespons eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan akan menuntut pertanggungjawaban Iran atas serangan-serangan yang terjadi.

Pesawat tempur di dekat Selat Hormuz (FlightRadar24)

Kelompok Houthi sendiri telah mengumumkan pemblokadean laut terhadap Arab Saudi sejak awal pekan, menghambat jalur alternatif pengiriman minyak Saudi yang sebelumnya dialihkan lewat pipa untuk menghindari penutupan Selat Hormuz.

Selain ketegangan di Timur Tengah, tekanan pasokan global makin diperparah oleh penurunan produksi minyak di Kazakhstan.

Kementerian Energi Kazakhstan mengonfirmasi adanya pemangkasan produksi sementara akibat serangan pesawat nirawak (drone) yang memaksa terminal ekspor utamanya di Laut Hitam ditutup.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Jadi USD 100 per Barel, Perang Merembet ke Selat Bab el-Mandeb

Terminal yang dikelola Caspian Pipeline Consortium (CPC) tersebut menyalurkan sekitar 2 persen dari total pasokan minyak mentah harian dunia.

Sumber industri menyebutkan, penutupan rute ini memaksa salah satu ladang minyak terbesar di Kazakhstan memangkas tingkat produksinya hingga lebih dari separuh.

Load More