Bisnis / Energi
Senin, 13 Juli 2026 | 07:22 WIB
ARSIP-Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Spruance (DDG-111), mencegat kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade laut. [NY Post]
Baca 10 detik
  • Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 3 persen pada Senin, 13 Juli 2026 akibat ketegangan militer di Selat Hormuz.
  • Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat di wilayah Teluk telah mengancam stabilitas distribusi energi global secara signifikan.
  • Eskalasi serangan militer yang saling berbalas membuat kesepakatan gencatan senjata interim antara kedua negara kini berada dalam ketidakpastian.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak melesat tajam pada awal perdagangan Senin (13/7/2026). Lonjakan ini dipicu oleh keputusan Iran yang memperluas jangkauan serangan militernya ke sejumlah negara Teluk menyusul gempuran balasan dari Amerika Serikat, yang kini mengancam stabilitas jalur distribusi energi global di Selat Hormuz.

Berdasarkan data pasar pada pukul 23.11 GMT (sekitar 07.00 WIB), kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent melonjak sebesar US$2,34 atau naik 3,08 persen ke level US$78,35 per barel.

Pergerakan serupa diikuti oleh minyak mentah standar AS, West Texas Intermediate (WTI), yang terangkat US$2,21 atau 3,09 persen hingga menyentuh harga US$73,62 per barel.

Sepanjang akhir pekan lalu, Teheran melancarkan serangan udara ke wilayah Qatar dan Uni Emirat Arab. Aksi ini dibalas oleh militer AS yang menjatuhkan lebih banyak bom ke objek militer di dalam negeri Iran, memperpanjang siklus saling balas yang dipicu perebutan kendali atas perairan strategis tersebut.

Meskipun Presiden AS Donald Trump pada Minggu menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap dibuka aman bagi pelayaran komersial, klaim tersebut berbanding terbalik dengan fakta di lapangan.

Iran sebelumnya telah menyatakan penutupan total selat setelah sebuah kapal dilaporkan terkena tembakan karena melintasi rute ilegal.

Data pelacakan kapal laut dari Kpler menunjukkan, hanya ada enam kapal yang tercatat berani melintasi Selat Hormuz pada hari Minggu—angka lalu lintas harian terendah dalam lima pekan terakhir.

Nasib Kesepakatan Damai Interim di Ujung Tanduk

Baku hantam bersenjata yang kian intensif ini menimbulkan keraguan besar atas keberlanjutan perjanjian gencatan senjata interim yang ditandatangani AS dan Iran bulan lalu.

Baca Juga: Ekonom Wanti-wanti Defisit APBN Bisa Lebihi 3% Jika Harga Minyak Dunia Tembus Segini

Kesepakatan tersebut awalnya dirancang untuk membuka kembali selat secara permanen dan mengakhiri perang melalui tenggat perundingan 60 hari.

Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya menyebutkan bahwa pasca-perjanjian bulan lalu, pasokan minyak global sebenarnya sempat terkerek naik sebanyak 4,1 juta barel per hari pada Juni. Namun, volume tersebut masih berada 9,4 million barel per hari di bawah level normal sebelum perang meletus.

"Harapan untuk penyelesaian yang relatif cepat atas bentrokan baru-baru ini tampaknya diragukan setelah ketegangan meningkat tajam sepanjang akhir pekan," tulis tim analis perbankan ANZ dalam nota risetnya.

Di sisi lain, analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai respons harga minyak yang kenaikannya masih berada di kisaran 3 persen menunjukkan pelaku pasar melihat gejolak ini sebagai friksi di dalam masa gencatan senjata yang rapuh, belum sampai pada tahap pembatalan total kesepakatan damai.

"Namun, seberapa akurat pandangan pasar tersebut, masih harus kita lihat perkembangannya ke depan," ujar Sycamore, dilansir via Reuters.

Load More