- Pemerintah Indonesia memantau ketegangan geopolitik di Selat Hormuz karena wilayah tersebut merupakan episentrum penentu harga minyak dunia.
- Konflik di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah Brent dan WTI kembali melonjak setelah sempat mengalami tren penurunan.
- Iran memperluas tekanan militer dengan melarang kapal logistik komersial melintasi jalur perairan sekitar garis pantai Oman tersebut.
Suara.com - Pemerintah Indonesia terus memantau secara ketat eskalasi ketegangan geopolitik yang kembali mendidih di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.
Jalur pelayaran logistik strategis tersebut dinilai menjadi faktor krusial yang menentukan arah pergerakan harga minyak mentah dunia ke depan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pergerakan situasi di perairan Teluk tersebut dipantau secara berkala dari waktu ke waktu karena dampaknya yang sensitif bagi perekonomian.
"Ya kan kita monitor saja kan, tiap minggu up and down," ujar Airlangga saat memberikan keterangan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Saat dimintai tanggapan mengenai seberapa besar pengaruh konflik di Selat Hormuz terhadap gejolak energi global, Airlangga secara lugas menyebut wilayah tersebut merupakan episentrum penentu harga. "Harga minyak tergantung Selat Hormuz," tegasnya.
Harga Minyak Berbalik Melonjak
Situasi memanas ini langsung memutus tren penurunan harga minyak bumi yang sempat terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan terkerek naik ke level US$78,99 per barel, sementara minyak mentah standar AS, West Texas Intermediate (WTI), merangkak naik ke posisi US$73,87 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melunak berkat upaya Pemerintah Amerika Serikat yang meyakinkan pelaku pasar bahwa jalur distribusi energi global di kawasan tersebut masih berada dalam kondisi aman.
Baca Juga: Emas Anjlok, Dolar Perkasa! Investor Disarankan Pantau Rasio Emas Sebelum Ambil Keputusan
Pendiri sekaligus Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menilai koreksi turunnya harga pada beberapa waktu lalu memang murni dipengaruhi oleh jaminan dari Presiden AS Donald Trump terkait kelancaran lalu lintas kapal-kapal tanker.
Namun, kekhawatiran pelaku pasar kembali mencuat setelah Iran dilaporkan memperluas tekanan militernya. Teheran secara terbuka memperingatkan industri pelayaran internasional agar tidak mencoba mencari celah melalui rute alternatif.
Bahkan, pihak Iran melarang keras kapal-kapal logistik komersial untuk melintasi jalur perairan luar yang berada di sepanjang garis pantai Oman, yang kian mempersempit ruang gerak distribusi logistik global.
Berita Terkait
-
Harga Minyak Naik Berkali-kali Sejak Kemarin, AS-Iran Sudah 'Panaskan Mesin' Perang
-
Serangan GFS Galaxy, Jalur Dagang Dunia Mencekam Setelah Iran Tutup Paksa Selat Hormuz
-
AS Target 2 Kota Besar di Khuzestan, Jantung Minyak Iran
-
Harga Minyak Dunia Meroket Menyusul Serangan Udara Beruntun Antara Militer AS dan Iran
-
Pangkalan Militer AS di Teluk Jadi Sasaran Serangan Rudal dari Pasukan Iran, Selat Hormuz Ditutup
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
Terkini
-
Pemerintah Kaji Harga Khusus BBM untuk Kapal Nelayan 30-200 GT
-
Harga Minyak Naik Berkali-kali Sejak Kemarin, AS-Iran Sudah 'Panaskan Mesin' Perang
-
Distribusi BBM Kini Gunakan AI, Begini Caranya
-
Asing Lepas BBCA hingga GOTO, Net Sell Rp274,81 Miliar di Sesi I
-
IMF Pertahankan Target Ekonomi Indonesia, 'Lebih Baik' dari India dan Filipina
-
IHSG Bertahan di Level 5.900-an pada Sesi I, RATU dan BRPT Jadi Pendorong
-
Timnas Argentina Diguncang Skandal Pencucian Uang AFA, FBI Turun Tangan
-
Purbaya Tolak Perpanjang Tenor Dana SAL Rp 200 Triliun Milik Pemerintah ke Himbara
-
Harga Emas Antam Anjlok, Rupiah Ikutan Koreksi Tajam: Apa Penyebabnya?
-
Purbaya Ramal Defisit APBN 2026 Bengkak Jadi Rp 734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB