Bisnis / Energi
Senin, 13 Juli 2026 | 13:41 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Indonesia memantau ketegangan geopolitik di Selat Hormuz karena wilayah tersebut merupakan episentrum penentu harga minyak dunia.
  • Konflik di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah Brent dan WTI kembali melonjak setelah sempat mengalami tren penurunan.
  • Iran memperluas tekanan militer dengan melarang kapal logistik komersial melintasi jalur perairan sekitar garis pantai Oman tersebut.

Suara.com - Pemerintah Indonesia terus memantau secara ketat eskalasi ketegangan geopolitik yang kembali mendidih di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.

Jalur pelayaran logistik strategis tersebut dinilai menjadi faktor krusial yang menentukan arah pergerakan harga minyak mentah dunia ke depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pergerakan situasi di perairan Teluk tersebut dipantau secara berkala dari waktu ke waktu karena dampaknya yang sensitif bagi perekonomian.

"Ya kan kita monitor saja kan, tiap minggu up and down," ujar Airlangga saat memberikan keterangan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (13/7/2026).

Saat dimintai tanggapan mengenai seberapa besar pengaruh konflik di Selat Hormuz terhadap gejolak energi global, Airlangga secara lugas menyebut wilayah tersebut merupakan episentrum penentu harga. "Harga minyak tergantung Selat Hormuz," tegasnya.

Harga Minyak Berbalik Melonjak

Situasi memanas ini langsung memutus tren penurunan harga minyak bumi yang sempat terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan terkerek naik ke level US$78,99 per barel, sementara minyak mentah standar AS, West Texas Intermediate (WTI), merangkak naik ke posisi US$73,87 per barel.

Sebelumnya, harga minyak sempat melunak berkat upaya Pemerintah Amerika Serikat yang meyakinkan pelaku pasar bahwa jalur distribusi energi global di kawasan tersebut masih berada dalam kondisi aman.

Baca Juga: Emas Anjlok, Dolar Perkasa! Investor Disarankan Pantau Rasio Emas Sebelum Ambil Keputusan

Pendiri sekaligus Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menilai koreksi turunnya harga pada beberapa waktu lalu memang murni dipengaruhi oleh jaminan dari Presiden AS Donald Trump terkait kelancaran lalu lintas kapal-kapal tanker.

Namun, kekhawatiran pelaku pasar kembali mencuat setelah Iran dilaporkan memperluas tekanan militernya. Teheran secara terbuka memperingatkan industri pelayaran internasional agar tidak mencoba mencari celah melalui rute alternatif.

Bahkan, pihak Iran melarang keras kapal-kapal logistik komersial untuk melintasi jalur perairan luar yang berada di sepanjang garis pantai Oman, yang kian mempersempit ruang gerak distribusi logistik global.

Load More