Bisnis / Energi
Senin, 27 Juli 2026 | 07:02 WIB
Ilustrasi aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz [Unsplash/Hisham]
Baca 10 detik
  • Presiden Donald Trump menghentikan aksi militer AS ke Iran pada perdagangan Senin demi peluang diplomatik.
  • Harga minyak Brent merosot 5,77 persen menjadi US$91,20 per barel dan WTI turun 5,50 persen.
  • Pejabat Iran menyatakan kesiapan menghentikan operasi militer selama Washington tidak memulai kembali serangan udara tersebut.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam lebih dari 5 persen pada perdagangan Senin. Anjloknya harga komoditas energi ini dipicu oleh keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menghentikan sementara aksi militer ke wilayah Iran setelah dua pekan gempuran berturut-turut, yang memicu optimisme pasar akan peluang penyelesaian diplomatik di Timur Tengah.

Pada perdagangan hingga pukul 22.04 GMT, harga minyak mentah berjangka jenis Brent merosot US$5,58 atau 5,77 persen ke posisi US$91,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS terdepresiasi US$4,91 atau 5,50 persen ke level US$84,40 per barel.

Penurunan ketegangan militer ini terjadi setelah militer AS menghentikan aksi pengeboman sejak Jumat malam, pasca 13 malam berturut-turut melakukan serangan udara intensif.

Langkah jeda ini dilaporkan diambil setelah para penasihat militer memberi tahu Presiden Trump bahwa target-target serangan utama telah habis, di samping adanya kekhawatiran mengenai penipisan cadangan amunisi dan persenjataan AS.

Di sisi lain, pihak Iran yang sebelumnya selalu membalas setiap gempuran AS dengan menyerang pangkalan militer AS di negara-negara tetangga, juga memilih untuk menahan diri selama dua hari terakhir.

Seorang pejabat senior pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Teheran siap menghentikan aksi militernya selama Washington tidak memulainya kembali.

"Posisi kami tetap 'serangan dibalas serangan': jika serangan berhenti, Iran juga akan menghentikan operasinya. Pesan tersebut telah disampaikan kepada pihak Amerika Serikat," tegas pejabat senior Iran tersebut saat memberikan keterangan kepada Reuters.

Ruang Negosiasi dan Dinamika Selat Hormuz

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, membenarkan bahwa jeda operasional ini disengaja untuk memberi ruang bagi proses diplomasi.

Baca Juga: Ancaman Pasokan Memanas, Harga Minyak Dekati 100 Dolar AS per Barel

"Presiden memberi ruang bagi jalannya pembicaraan, beliau memberikan sedikit kelonggaran," ujar Waltz dalam wawancara di program Fox News Sunday.

Sebelum adanya keputusan penangguhan ini, fokus gempuran udara militer AS ditujukan untuk melumpuhkan potensi ancaman Iran terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz—terusan sempit yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia dan pusat eskalasi konflik dalam beberapa pekan terakhir.

Load More