News / Internasional
Senin, 27 Juli 2026 | 06:59 WIB
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan perdamaian dengan Amerika Serikat bergantung pada penghentian serangan Israel di Lebanon [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan perdamaian dengan Amerika Serikat bergantung pada penghentian serangan Israel di Lebanon pada Minggu (26/7).
  • Syarat utama Iran untuk mengakhiri perang adalah perlindungan wilayah Lebanon dan penghentian tanpa syarat agresi militer Israel.
  • Konflik tersebut telah menimbulkan korban jiwa besar, yakni 4.329 orang di Lebanon serta 41 orang di pihak Israel.

Suara.com - Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa peluang perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat bergantung pada langkah Israel menghentikan serangan militernya di Lebanon.

Pernyataan itu disampaikan Khamenei melalui media sosial X pada Minggu (26/7), di tengah laporan meredanya serangan dan kembali dibukanya jalur diplomasi antara Teheran dan Washington.

“Iran menetapkan perlindungan integritas wilayah Lebanon dan penghentian tanpa syarat agresi rezim Zionis sebagai syarat utama untuk mengakhiri perang yang dipaksakan,” tulis Khamenei.

Ia juga menyatakan dukungan terbuka terhadap kelompok Hizbollah, termasuk kepada mendiang pemimpinnya, Hassan Nasrallah, serta warga Lebanon selatan yang menjadi pusat serangan Israel.

Mojtaba Khamenei (Jerusalem post)

“Iran menganggap pembelaan terhadap para pejuang yang tertindas namun kuat ini sebagai mandat strategis,” lanjutnya.

Situasi ini terjadi setelah Israel menginvasi Lebanon pada 2024 dan hingga kini masih menguasai sebagian wilayah selatan negara tersebut.

Meski sempat ada kesepakatan kerangka damai yang dimediasi AS pada 26 Juni, implementasinya berjalan tersendat.

Kesepakatan itu mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah pendudukan, namun tanpa tenggat waktu yang jelas.

Israel disebut baru akan mundur setelah Hezbollah dilucuti, syarat yang langsung ditolak kelompok tersebut.

Baca Juga: Houthi Serang 'Tambang' Arab Saudi, Harga Minyak Hampir 100 Dolar AS per Barel

Militer Lebanon menyebut pasukan Israel masih menghambat proses penarikan, termasuk menolak keluar dari zona yang telah ditentukan.

Di lapangan, operasi militer seperti pembuldoseran, penembakan, dan patroli bersenjata berat masih terus berlangsung.

Konflik terbaru ini telah menelan korban besar.

Sedikitnya 4.329 orang tewas di Lebanon, sementara di pihak Israel tercatat 37 tentara dan empat warga sipil meninggal dunia.

Pasukan penjaga perdamaian PBB juga mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran terhadap gencatan senjata sebelumnya oleh Israel, memperburuk situasi keamanan di kawasan.

Pernyataan Khamenei muncul saat konflik kawasan meluas, termasuk meningkatnya ketegangan di Yaman akibat saling serang antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.

Load More