Bisnis / Makro
Senin, 03 Agustus 2026 | 19:25 WIB
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. [ANTARA FOTO/Marco/rwa/wsj]
Baca 10 detik
  • Gubernur sementara Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan cadangan devisa turun dari 156 miliar dolar AS menjadi 145 miliar dolar AS pada Juni 2026.
  • Penurunan cadangan devisa tersebut digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memenuhi pembayaran utang luar negeri pemerintah.
  • Bank Indonesia menilai cadangan devisa sebesar 145 miliar dolar AS masih aman karena mampu membiayai 5,4 bulan impor.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) memastikan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia masih berada pada level yang aman, meski mengalami penurunan sejak awal tahun 2026.

Penurunan tersebut terjadi seiring penggunaan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memenuhi pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Gubernur sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan posisi cadangan devisa Indonesia sempat mencapai level tertinggi sekitar 156 miliar dolar AS pada 2026. Hingga akhir Juni, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 145 miliar dolar AS.

Meski demikian, Destry enggan merinci besaran cadangan devisa yang telah digunakan secara khusus untuk stabilisasi rupiah maupun pembayaran utang luar negeri.

Petugas menghitung uang pecahan 100 dolar di Ayumas Money Changer, Jakarta Pusat, Kamis (19/3). [Suara.com/Alfian Winanto]

"Itu rahasia. Yang jelas, posisi cadangan devisa kita tertinggi di 2026 itu sekitar 156 miliar dolar AS. Sekarang posisinya 145 miliar dolar AS. Jadi teman-teman bisa membayangkan, sudah kurang lebih sebesar itu pengurangan cadangan devisa kita," ujar Destry dalam Rapat KSSK di Gedung LPS, Senin (3/8/2026)

Ia menjelaskan, penurunan tersebut mencerminkan penggunaan cadangan devisa untuk dua kebutuhan utama, yakni intervensi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Termasuk itu untuk stabilisasi dan juga pembayaran utang luar negeri, khususnya dari pemerintah. Karena dana pemerintah juga ada di Bank Indonesia," katanya.

Destry menegaskan, meskipun cadangan devisa mengalami penurunan, level saat ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional. Menurutnya, posisi cadangan devisa sebesar 145 miliar dolar AS mampu membiayai sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Angka 145 miliar dolar AS itu masih relatif aman karena masih sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Sementara threshold ataupun benchmarking di internasional itu adalah 3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," tutur Destry.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.997 Jelang Laporan Pertumbuhan Ekonomi RI

Dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia menilai ketahanan eksternal Indonesia masih tetap kuat. Cadangan devisa yang berada di atas standar internasional dinilai memberikan ruang bagi bank sentral untuk menjaga stabilitas sektor eksternal, termasuk mengantisipasi gejolak di pasar keuangan global dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Load More