- Defisit dagang Juni 2026 capai USD450 juta akibat impor migas melonjak.
- Ekspor naik ke USD25,46 miliar, tetapi belum mampu menutup defisit energi.
- Industri pengolahan tetap jadi tulang punggung ekspor Indonesia.
Suara.com - Lonjakan ekspor Indonesia pada Juni 2026 belum mampu menyelamatkan kinerja perdagangan nasional. Meski nilai ekspor meningkat tajam, Indonesia justru mencatat defisit neraca perdagangan sebesar USD450 juta, tertekan oleh membengkaknya impor minyak dan gas (migas) yang kembali menjadi beban utama perekonomian.
Berdasarkan data pemerintah, nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai USD25,46 miliar, naik 9,72 persen dibanding bulan sebelumnya dan meningkat 8,84 persen secara tahunan (year on year). Namun, kenaikan tersebut tidak cukup mengimbangi lonjakan impor, khususnya di sektor migas.
Defisit perdagangan pada Juni terjadi setelah sektor migas mencatat defisit hingga USD3,49 miliar. Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas sebesar USD3,04 miliar belum mampu menutup besarnya arus impor energi.
Kondisi tersebut kembali menegaskan bahwa sektor migas masih menjadi titik lemah neraca perdagangan Indonesia. Di sisi lain, sektor nonmigas tetap menjadi penopang utama perdagangan luar negeri.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan penguatan ekspor nonmigas menunjukkan daya saing produk Indonesia masih mampu bertahan di tengah perlambatan ekonomi dan ketidakpastian global.
"Penguatan ekspor nonmigas menjadi bukti tetap terjaganya daya saing produk Indonesia. Pemerintah akan terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi dagang, serta mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan agar kinerja ekspor terus meningkat," ujar Budi, Jumat (7/8/2026).
Secara kumulatif sepanjang Semester I 2026, Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD3,58 miliar. Namun, surplus tersebut sepenuhnya ditopang oleh perdagangan nonmigas yang menghasilkan surplus USD19,35 miliar.
Sebaliknya, sektor migas masih menjadi sumber tekanan dengan defisit mencapai USD15,77 miliar, mencerminkan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Total ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 tercatat sebesar USD140,81 miliar, meningkat 4,13 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas menyumbang USD134,58 miliar.
Kontributor terbesar ekspor nasional masih berasal dari industri pengolahan yang menguasai 82,02 persen total ekspor. Bahkan, sektor ini menjadi satu-satunya sektor yang mencatat pertumbuhan positif sebesar 7,37 persen pada Semester I 2026.
Sebaliknya, ekspor sektor pertanian, migas, serta pertambangan masih mengalami kontraksi.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok tetap menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD34,56 miliar, disusul Amerika Serikat sebesar USD15,82 miliar dan India senilai USD9,25 miliar.
Di sisi lain, impor Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Pada Juni 2026, nilai impor mencapai USD25,91 miliar, naik 4,41 persen dibanding Mei dan melonjak 34,27 persen dibanding Juni tahun lalu.
Sepanjang Semester I 2026, total impor mencapai USD137,24 miliar, atau tumbuh 18,69 persen secara tahunan.
Lonjakan terbesar berasal dari impor migas yang meningkat 38,71 persen menjadi USD22 miliar. Sementara impor nonmigas naik 15,50 persen menjadi USD115,23 miliar.
Menurut Budi, kenaikan impor masih didominasi oleh bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan untuk menopang aktivitas industri dan investasi, sehingga tidak seluruhnya mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi.
"Komposisi tersebut menunjukkan impor Indonesia masih didominasi kebutuhan untuk mendukung aktivitas produksi dan investasi," katanya.
Ia menambahkan pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri dan peningkatan ekspor agar neraca perdagangan tetap sehat dan berkelanjutan.