Pertumbuhan Ekonomi RI Meleset dari Target, Purbaya Salahkan Kenaikan Harga Minyak Global

Jum'at, 07 Agustus 2026 | 15:37 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN KiTa edisi Juli 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (21/7/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
  • Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026.
  • Menteri Keuangan menyatakan pencapaian tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak global akibat perang.
  • Pemerintah optimis mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju enam persen pada triwulan berikutnya.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengomentari soal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29 persen di triwulan II 2026. Angka ini meleset dari prediksi dia sebelumnya yang menyatakan tak jauh dari 5,4 persen.

Menkeu Purbaya berdalih kalau pertumbuhan ekonomi RI yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) itu terpengaruh dari kenaikan harga minyak global, yang disebabkan perang Amerika Serikat vs Iran di Timur Tengah.

"Jadi kalau kita lihat, saya sebenarnya agak takut. Itu kan 5,3 kan? Melambat di tengah harga minyak dunia yang tinggi kan? Q2 kan sebetulnya agak impact dari global," katanya dalam Media Briefing di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Jumat (7/8/2026).

Purbaya menjelaskan kalau periode April hingga Juni 2026, kenaikan harga minyak sedang mencapai puncaknya. Walhasil itu berdampak ke ekspor dan lain yang membuatnya tak optimal.

Bendahara Negara justru menilai kalau angka pertumbuhan 5,29 persen sudah cukup baik di tengah ketidakpastian global.

"Kita bisa tembus 5,29 itu sudah cukup baik dengan keadaan yang seperti itu," lanjutnya.

Namun ke depan, Purbaya yakin bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi RI menuju 6 persen di triwulan III maupun IV 2026. Ia akan memanfaatkan seluruh mesin yang sudah ada sehingga berdampak ke perekonomian.

"Tapi ke depan saya yakin di triwulan ke-3, 4, kita akan dorong ke arah yang lebih cepat menuju 6% dengan memaksimalkan semua engine-engine yang ada di perekonomian," jelasnya.

Diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Capaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2025 yang sebesar 5,12%, menunjukkan daya tahan konsumsi masyarakat dan investasi masih menjadi penopang utama perekonomian nasional.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud mengatakan, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat Rp3.576,2 triliun.

"Sehingga, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2026 bila dibandingkan dengan triwulan II tahun 2025 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,29%," kata Edy dalam konferensi pers di Kantor BPS, Selasa (5/8/2026).

Tak hanya meningkat secara tahunan, ekonomi Indonesia juga tumbuh 3,73% dibandingkan triwulan I 2026 (quarter to quarter/qoq). Dengan demikian, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I 2026 mencapai 5,45%.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com