Tuntutan Trump Dorong Harga Minyak ke Level Tertinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:02 WIB
Presiden AS, Donald Trump [The White House]
  • Harga minyak mentah dunia bertahan tinggi pada Selasa 11 Agustus 2026 akibat gagalnya kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran.
  • Saudi Aramco menunda operasional kilang Jazan hingga 30 Agustus 2026 setelah fasilitas tersebut diserang oleh kelompok Houthi.
  • Ekspor minyak melalui Selat Hormuz turun menjadi 3 juta barel per hari karena ancaman keamanan yang terus berlanjut.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia bertahan di level tertinggi dalam sepekan terakhir pada perdagangan Selasa 11 Agustus 2026. 

Lonjakan ini dipicu menipisnya peluang kesepakatan damai AS-Iran pasca-tuntutan ganti rugi yang diajukan Presiden AS Donald Trump.

Mengutip dari Reuters, minyak mentah berjangka Brent berada di level 87,81 dolar AS per barel, sementara jenis U.S. West Texas Intermediate (WTI) bertahan di posisi 82,20 dolar AS per barel. 

Sebelumnya pada hari Senin, kedua acuan harga tersebut melonjak lebih dari 5 persen,  ke level tertinggi sejak akhir Juli. 

Lonjakan ini dipicu oleh sikap tegas Trump yang menuntut Iran membayar kompensasi atas korban tewas dalam perang dan konflik, menyusul syarat perdamaian yang diajukan Tehran. 

Sikap ini memperumit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, meski AS mengklaim telah menguasai kawasan strategic tersebut dan membersihkannya dari ranjau Iran.

Ilustrasi Perang AS-Iran. [Suara.com/HD]

Analis Utama Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai terdapat perbedaan pandangan antara AS dan Iran mengenai bentuk kesepakatan damai.

"Tampaknya ada jurang pemisah, tanpa bermaksud bermain kata, antara AS dan Iran mengenai seperti apa sebenarnya kesepakatan itu nantinya," kata Waterer. 

Hal ini  menurutnya semakin mengikis optimisme pasar yang sempat terbentuk pekan lalu sehingga menahan harga minyak tetap tinggi.

Di sisi lain, Saudi Aramco menunda pengoperasian kembali kilang Jazan berkapasitas 400.000 barel per hari hingga 30 Agustus, usai kelompok Houthi mengklaim dua serangan ke fasilitas tersebut pada hari Minggu.

Waterer menambahkan bahwa ancaman terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb masih sangat signifikan. 

Pembatasan lalu lintas kapal maupun potensi insiden lanjutan terus memicu kenaikan biaya asuransi dan memaksa kapal mengambil rute lebih jauh, sehingga pasokan energi diperkirakan tetap terbatas dalam jangka pendek.

Data analis Barclays menunjukkan bahwa eksportasi bersih minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz pada pekan yang berakhir 7 Agustus, rata-rata berada di angka 3 juta barel per hari, turun dari 4,4 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Sementara itu dari Irak, pemerintah setempat menaikkan harga jual resmi (OSP) minyak mentah Basra Medium untuk pasar Asia pada September sebesar 2,50 dolar AS, menjadi minus 4 dolar AS per barel dibanding rata-rata acuan Oman/Dubai.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com