Karena itu, program penerbangan domestik gratis tersebut dipandang bukan sekadar memberikan satu tiket tambahan tanpa biaya, melainkan membangun perjalanan yang lebih panjang dengan aktivitas wisata dan belanja yang lebih luas.
Dalam kolaborasi ini, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Lombok menjadi kawasan yang mendapat perhatian untuk penguatan konektivitas.
Yudhistira mengatakan kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki kekuatan destinasi sekaligus berbagai agenda internasional. Bandara di kawasan tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai simpul penerbangan, tetapi juga menjadi gerbang ekonomi bagi destinasi di sekitarnya. Potensi tersebut mencakup Borobudur, Prambanan, hingga berbagai destinasi wisata dan akomodasi yang dikembangkan InJourney.
Ia juga menyoroti pemulihan Grand Hotel de Djokja, bangunan bersejarah yang pertama kali berdiri pada awal abad ke-20. Hotel tersebut dikembalikan menggunakan nama historisnya dan memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan Indonesia, termasuk pernah menjadi ruang kerja Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Sementara itu, Lombok memiliki kekuatan lain melalui Mandalika. Selain menjadi destinasi alam dan bahari, kawasan tersebut dikenal sebagai lokasi penyelenggaraan MotoGP.
Yudhistira menyebut perekonomian Kabupaten Lombok Tengah tumbuh 4,87 persen pada 2025, meningkat dibandingkan 3,34 persen pada 2024. Pada triwulan I 2026, ekonomi Nusa Tenggara Barat bahkan tumbuh 13,4 persen secara tahunan. “Lombok memiliki kekuatan destinasi yang lengkap, mulai dari Mandalika, keindahan alamnya, pantai-pantainya, hingga pengalaman hospitality,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan konektivitas ke Yogyakarta dan Lombok bukan sekadar membawa wisatawan ke destinasi, tetapi menciptakan ekosistem perjalanan agar wisatawan datang, tinggal lebih lama, menikmati lebih banyak pengalaman, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
InJourney juga membawa konsep seamless journey dalam kolaborasi tersebut. Wisatawan diharapkan dapat menikmati rangkaian perjalanan mulai dari kedatangan di bandara, perjalanan menuju destinasi, akomodasi, hingga aktivitas belanja dalam satu ekosistem pariwisata.
Yudhistira mengatakan wisatawan tidak lagi dipandang hanya sebagai penumpang yang datang dan kemudian pergi, melainkan sebagai traveler yang perlu mendapatkan pengalaman sejak tiba hingga kembali ke negara asal.
“Kami tidak melihat wisatawan hanya sebagai penumpang yang kemudian datang dan pergi begitu saja, tetapi kami melihat mereka sebagai traveler yang harus kita layani sepanjang perjalanan mereka,” katanya.
Dengan konsep tersebut, pengalaman wisata diharapkan tidak berakhir ketika wisatawan meninggalkan destinasi. Pengalaman positif dapat mendorong mereka kembali ke Indonesia sekaligus merekomendasikan perjalanan kepada keluarga dan komunitasnya. Penguatan konektivitas juga diarahkan untuk mendukung agenda internasional, termasuk MotoGP 2026 di Mandalika yang dijadwalkan berlangsung 9–11 Oktober 2026.
Yudhistira menyebut penyelenggaraan MotoGP pada 2025 menghasilkan economic impact sekitar Rp4,9 triliun bagi perekonomian nasional dan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja. Dampaknya bahkan melahirkan talenta lokal yang mampu bersaing di tingkat internasional. Salah satunya marshal lokal Mandalika yang kini telah dipercaya bertugas pada ajang balap internasional di luar negeri.
Ia mencontohkan, ketika World Superbike (WSBK) pertama kali digelar di Mandalika pada 2021, marshal yang bertugas masih 100 persen berasal dari luar negeri. Dua tahun kemudian, seluruh marshal telah berasal dari tenaga lokal. Sebagian di antaranya bahkan dipercaya bertugas di ajang balap di Sepang, Malaysia, dan Sirkuit Motegi, Jepang.
“Ini membuktikan bahwa destinasi itu tidak hanya menciptakan jumlah wisatawan yang hadir, tetapi menciptakan economic impact dan social impact yang manfaatnya dirasakan jauh lebih luas,” kata Yudhistira.
Untuk mendukung mobilitas wisatawan selama MotoGP, InJourney juga telah meminta Garuda Indonesia menambah kapasitas penerbangan menuju kawasan tersebut.
Bagi Garuda Indonesia, program 170.845 kursi juga memiliki makna simbolis karena diluncurkan bertepatan dengan momentum kemerdekaan Indonesia. Marketing Group Head Garuda Indonesia Prina Eka Putri menyebut angka tersebut merefleksikan tanggal kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.
Southeast Asia Branch Manager Garuda Indonesia Agny Gallus Pratama menambahkan, program tersebut sekaligus menjadi strategi untuk mengoptimalkan load factor penerbangan internasional pada semester II 2026. Namun, tujuan akhirnya lebih besar daripada sekadar peningkatan kinerja maskapai. Garuda ingin memperkuat posisinya sebagai national flag carrier yang membawa wisatawan mengenal Indonesia lebih luas.
“Bukan hanya Jakarta dan Bali, tetapi beyond daripada itu di seluruh Indonesia. Inilah misi besar dari program ini,” ujar Agny.
Dengan demikian, penerbangan domestik gratis diposisikan bukan sekadar promosi tiket, tetapi sebagai instrumen untuk mengubah pola perjalanan wisman: dari datang ke satu pintu, menjadi menjelajah lebih banyak Indonesia, tinggal lebih lama, dan menciptakan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat daerah.***