- Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
- Ketua DPR RI Puan Maharani mengumumkan us tersebut di Kompleks Parlemen Jakarta, Rabu (12/8/2026).
- Penyerahan Surat Presiden dilakukan Mensesneg Prasetyo Hadi kepada pimpinan DPR untuk diproses lebih lanjut.
Suara.com - Aida S. Budiman secara resmi diusulkan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menduduki posisi strategis sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI).
Pengumuman pengusulan nama tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Puan Maharani, dalam keterangan persnya di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada hari Rabu (12/8/2026).
Menurut penjelasan Puan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi telah secara resmi menyerahkan Surat Presiden (Surpres) yang berisi usulan nama-nama calon pucuk pimpinan Bank Indonesia kepada pimpinan DPR untuk diproses lebih lanjut.
"Jadi suratnya itu mengusulkan satu nama terkait dengan calon gubernur Bank Indonesia, yaitu Ibu Destry Damayanti dan satu calon deputi gubernur senior Bank Indonesia, yaitu Ibu Aida S. Budiman," ujar Puan.
Profil Aida Budiman
Aida Budiman lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tahun 1965 dengan rekam jejak akademis dan profesional yang sangat mumpuni, menjadikannya salah satu figur paling dihormati dalam perumusan kebijakan makroekonomi di Indonesia.
Menariknya, Aida tidak mengawali pendidikannya murni di jalur ekonomi moneter. Ia merupakan alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) yang lulus dari jurusan Sosial-Ekonomi Pertanian Agribisnis pada tahun 1987.
Ia kemudian banting setir memperdalam ilmu ekonomi ke Amerika Serikat. Aida sukses meraih gelar Master di bidang Economics dari University of Southern California pada tahun 1996.
Lalu, ia kembali melanjutkan studi ke Claremont Graduate University dan berhasil menyandang gelar prestisius Ph.D di bidang Ekonomi pada tahun 2001.
Karier Aida di Bank Indonesia telah dirintis sejak lebih dari tiga dekade lalu. Ia pertama kali bergabung dengan bank sentral pada tahun 1991 sebagai staf Analis Inflasi dan Proyeksi Perekonomian Indonesia.
Aida banyak berkecimpung di bidang perumusan kebijakan moneter, hubungan internasional, hingga meracik bauran kebijakan dengan reformasi struktural yang sangat dibutuhkan oleh perekonomian domestik.
Pada periode 2010 hingga 2013, ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Direktur Eksekutif di Dana Moneter Internasional (IMF) untuk kantor South-East Asia Voting Group (SEAVG). Dalam kapasitas tersebut, ia mewakili 13 negara anggota untuk menyuarakan aspirasi, khususnya terkait isu manajemen aliran modal (capital flows management) dan implikasinya bagi negara-negara berkembang.
Sepulangnya dari tugas internasional, Aida menempati posisi Kepala Departemen Internasional sekaligus menjabat sebagai Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter pada periode 2014-2018. Kiprah cemerlang ini membawanya naik jabatan menjadi Asisten Gubernur pada kurun waktu 2020-2022, di mana ia membawahi Kebijakan Strategis Sektor Moneter dan Bauran Kebijakan BI.
Puncak kariernya di jajaran Dewan Gubernur dimulai saat ia resmi diangkat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI No.147/P Tahun 2021. Ia dilantik pada 6 Januari 2022 untuk menjalani masa jabatan hingga tahun 2027.
Di luar tugasnya di BI, Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 11 September 2024, membuktikan kemampuannya yang sangat komprehensif dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.
Aida juga tercatat memiliki pengalaman panjang dalam memimpin kelompok kerja (working group) perumusan kebijakan internasional. Di ranah domestik, tangannya ikut meracik strategi nasional untuk pengembangan sektor industri dan pariwisata, pengembangan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), penguatan Financial Safety Net, mendorong penggunaan mata uang regional (LCS), hingga merumuskan strategi ampuh untuk meningkatkan Sovereign Rating Indonesia di mata lembaga pemeringkat dunia.