Danantara Bangun Pabrik Magnet Permanen, untuk Komponen EV hingga Senjata Canggih

Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:12 WIB
Danantara berencana membangun pabrik magnet permanen dari logam tanah jarang yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028. [Suara.com/Ahmad Fauzi]
  • Danantara berencana membangun pabrik magnet permanen dari logam tanah jarang yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028.
  • Pabrik ini kelak akan memproduksi komponen untuk kendaraan listrik atau EV hingga komponen untuk industri pertahanan.
  • Danantara telah menunjuk BUMN baru PT Perminas untuk mengelola logam tanah jarang.

Suara.com - Danantara akan membangun pabrik magnet permanen dari logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth. Pabrik ini direncanakan beroperasi pada 2028 mendatang.

Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa mengungkapkan proyek ini adalah bagian dari upaya hilirisasi LTJ. Pabrik ini kelak akan memproduksi komponen untuk kendaraan listrik atau EV hingga komponen untuk industri pertahanan.

“Insyaallah 2028, permanent magnet bisa ada di Indonesia dan lain-lain. Ini satu kesatuan yang kami bangun sampai nanti kendaraan transportasi,” ujar Sigit dalam acara MINDialogue dengan tema “Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI” yang digelar di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Magnet permanen merupakan produk hilirisasi LTJ dengan bahan baku NdFeB (Neodymium-Iron-Boron).
Sigit menyampaikan neodymium (Nd) merupakan bahan baku permanen magnet yang digunakan motor traksi kendaraan listrik (EV). Motor traksi adalah motor listrik yang digunakan untuk penggerak kendaraan.

“Di permanen magnet nanti ada motor traksinya sampai ke motor dan mobil EV-nya. Jadi, kami melihatnya secara holistik dari hulu sampai hilir,” kata Sigit.

Selain untuk industri kendaraan listrik, Sigit menyampaikan bahwa hilirisasi logam tanah jarang juga merambah sektor pertahanan atau defense. Potensi pengembangan logam tanah jarang di sektor pertahanan, kata Sigit, ada di baja armor.

“Kami dengan teman-teman di Krakatau Steel pertimbangkan dan sudah bisa masuk untuk baja armor. Hanya saja, kita harus sempurnakan dan sampai ke material untuk semikonduktor, radar, sensor, dan lain-lain kami siapkan semuanya,” ujar Sigit.

Dalam pengembangan industri mineral yang khusus mengelola logam tanah jarang, Sigit menyampaikan Danantara menggandeng Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).

Selain itu, Danantara pun telah membentuk PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) yang nantinya akan mengelola logam tanah jarang. Ia berharap Indonesia tidak hanya mengembangkan industri ekstraktif terkait dengan LTJ.

“Refinery inilah yang akan kami kejar. Alhamdulillah kami mendapatkan mitra-mitra yang luar biasa dan kami akan segera kembangkan ini bersama teman-teman di BRIN, teman-teman di perguruan tinggi,” ujar Sigit.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com