- Hubungan Iran dan Amerika Serikat membeku akibat kegagalan perundingan kesepakatan sementara serta peningkatan gangguan keamanan maritim kawasan Teluk.
- Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan berakhir pada 7 Juli, disusul penangguhan resmi oleh Kementerian Luar Negeri Iran sepekan kemudian.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan harga minyak global hingga USD 126 per barel serta ketidakpastian pasar energi.
Suara.com - Upaya diplomatik untuk mengakhiri perselisihan militer secara permanen di kawasan Teluk kembali berada di titik nadir. Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan tetap membeku di tengah ketiadaan kemajuan signifikan dalam perundingan pemulihan kesepakatan sementara (interim deal).
Kebuntuan ini terjadi seiring memanasnya kembali retorika politik kedua negara dan meningkatnya gangguan keamanan maritim di perairan strategis kawasan.
Seorang sumber senior dari pihak Iran mengonfirmasi bahwa negosiasi yang dimediasi pihak ketiga untuk menetapkan kerangka waktu pelaksanaan komitmen tidak mengalami perkembangan sama sekali.
Kondisi ini kian memburuk setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Iran, yang memupuskan harapan penyelesaian krisis diplomatik dalam waktu dekat.
Kesepakatan penghentian permusuhan sementara yang disepakati pada Juni lalu pada dasarnya telah menetapkan penghentian operasi militer secara cepat di seluruh lini.
Namun, komitmen tersebut tidak bertahan lama. Pada 7 Juli, Presiden Trump secara sepihak menyatakan bahwa kesepakatan tersebut telah berakhir, yang kemudian disusul oleh pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran seminggu setelahnya bahwa perjanjian resmi ditangguhkan.
Titik krusial perdebatan berpusat pada pengelolaan Selat Hormuz serta sanksi ekonomi:
- Tudingan Amerika Serikat: Washington menuduh Teheran melanggar komitmen kesepakatan karena enggan membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
- Tuntutan Iran: Pihak Teheran menegaskan bahwa AS terlebih dahulu merusak komitmen dengan tidak mencabut pemblokiran pelabuhan-pelabuhan Iran dan belum membebaskan aset-aset keuangan negara yang dibekukan.
Pemerintah Iran membantah laporan media yang menyebutkan adanya kesepakatan perpanjangan tenggat waktu 60 hari. Dari sudut pandang Teheran, pihak AS telah melanggar perjanjian hanya dalam kurun waktu 48 jam setelah disepakati, sehingga tidak ada mekanisme perpanjangan periode yang dianggap berlaku.
Saling Klaim Kendali Selat Hormuz dan Eskalasi Keamanan
Pemerintah AS mengklaim memiliki kendali penuh atas navigasi di Selat Hormuz. Tudingan tajam juga disampaikan Presiden Trump melalui platform Truth Social yang menyebut kepemimpinan Iran hanya melakukan retorika tanpa tindakan nyata.
Sebaliknya, Otoritas Selat Teluk Persia yang dibentuk oleh Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran komersial tersebut akan tetap ditutup rapat.
Jalur maritim strategis ini tidak akan dibuka kembali sampai seluruh persyaratan dan tuntutan ekonomi yang diajukan oleh pihak Iran dipenuhi secara utuh oleh Washington.
Eskalasi konflik maritim ini berdampak langsung pada rantai pasok energi global. Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang mengalirkan seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia sebelum pertempuran pecah.
Ketegangan geopolitik yang berlangsung sejak awal tahun ini telah memicu lonjakan ekstrem pada harga minyak mentah global, per Reuters.
Minyak mentah berjangka jenis Brent sempat menyentuh rekor tertinggi di level USD 126 per barel, atau melonjak sekitar 75 persen dibandingkan posisi sebelum perang.
Kepanikan pasar kembali tereskalasi setelah terjadinya insiden serangan baru terhadap armada kapal komersial di wilayah perairan Teluk:
- Serangan di Selat Bab el-Mandeb: Insiden yang diduga melibatkan kelompok Houthi menimpa sebuah kapal kargo kecil dan mengakibatkan empat orang awak kapal tewas.
- Intervensi Militer AS: Helikopter militer AS meluncurkan rudal Hellfire untuk menonaktifkan sistem kemudi sebuah kapal kargo berbendera Panama di wilayah perairan setempat.
Meskipun dinamika harga minyak mentah Brent bergerak bergejolak di kisaran USD 88 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD 83 per barel, ketidakpastian negosiasi damai antara Iran dan AS diprediksi akan terus membayangi stabilitas pasar energi dan ekonomi global secara luas.