- Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.885 per dolar AS pada hari Kamis 13 Agustus 2026.
- Sentimen global seperti data inflasi AS dan kebijakan MSCI menjadi penyebab utama pelemahan mata uang rupiah.
- Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah terkait Iran dan Amerika turut memberikan tekanan negatif bagi rupiah.
Suara.com - Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berlanjut. Kondisi mata uang Garuda masih melemah di pasar keuangan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Kamis 13 Agustus 2026 dibuka ke level Rp17. 885 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 8 poin atau 0,04 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp18.877 per dolar AS.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS disebabkan sentimen global. Lantaran, data inflasi Amerika yang membaik dan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) bikin rupiah tertekan.
"Rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS yang secara luas menguat walau data yang menunjukkan inflasi di AS yang kembali termoderasi namun masih sesuai dengan ekspektasi, dari domestik MSCI mempertahankan kebijakan pembekuan indeks Indonesia tanpa melakukan penghapusan besar-besaran seperti pada tinjauan sebelumnya," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan, pelemahan rupiah masih akan terus berlanjut. Apalagi, isu perdamaian Iran dan Amerika Serikat masih belum sepakat dan masih memberikan sentimen negatif.
"Namun ketidakpastian seputar prospek perdamaian di Timur Tengah masih terus menekan rupiah. Range rupiah ada di kisaran Rp17.800 dan Rp17.900," ujarnya.
Sementara itu, mata uang Asia bergerak bervariasi. Rinciannya, peso Filipina jadi mata uang yang anjlok paling dalam ke level 0,08 persen. Diikuti oleh ringgit Malaysia yang turun 0,04 persen dan yen Jepang yang melemah tipis 0,01 persen.
Sedangkan, dolar Taiwan menjadi mata uang paling kuat dengan naik 0,27 persen. Diikuti oleh won Korea Selatan 0,12 persen. Lalu ada baht Thailand terangkat 0,06 persen dan dolar Singapura yang naik 0,01 persen.