- PT Bank Rakyat Indonesia menduduki peringkat ketiga perusahaan berpendapatan terbesar nasional pada ajang Fortune Indonesia 100 tahun 2026.
- Sebanyak 51 perusahaan mengalami penyusutan laba bersih meskipun 66 emiten dalam daftar tersebut berhasil meningkatkan total pendapatan mereka.
- BRI mencatatkan total aset Rp2.250 triliun dan penyaluran kredit Rp1.562 triliun pada Triwulan I tahun 2026.
Suara.com - Tingginya standar operasional dan profitabilitas menuntut emiten berkapitalisasi jumbo untuk terus berinovasi. Pada ajang pemeringkatan Fortune Indonesia 100 edisi kelima tahun 2026, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI BBRI) sukses merangsek naik, menyalip posisi Astra International (ASII), dan mengamankan peringkat ketiga sebagai perusahaan dengan pendapatan terbesar di Tanah Air.
Pencapaian emiten bersandi BBRI ini terjadi di tengah makin ketatnya syarat masuk ke dalam daftar elite tersebut. Berdasarkan kinerja tahun fiskal 2025, ambang batas pendapatan minimum yang disyaratkan telah melonjak 7,85 persen menjadi Rp12,31 triliun.
Jika ditarik mundur ke edisi perdana yang menggunakan basis kinerja 2021, barrier to entry ini hanya berada di level Rp8,41 triliun. Artinya, ada pertumbuhan ganda atau compound annual growth rate (CAGR) sekitar 10 persen per tahun, yang merefleksikan betapa masifnya perputaran modal di level atas.
Secara agregat, seratus korporasi penyokong ekonomi nasional ini membukukan total pendapatan menyentuh Rp6.224,01 triliun. Angka yang fantastis ini mendominasi sekitar 26,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia tahun 2025 yang dipatok oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar Rp23.821,1 triliun.
Khusus untuk sektor BUMN, meski hanya diwakili 19 entitas, kontribusinya sangat mendominasi dengan porsi 50,32 persen dari total pendapatan seluruh perusahaan di dalam daftar.
Namun, besarnya pendapatan kotor tidak selalu sejalan dengan efisiensi perusahaan. Dari total 100 emiten, sebanyak 66 perusahaan berhasil mengerek pertumbuhan pendapatan, tetapi hanya 49 entitas yang sukses mempertahankan pertumbuhan laba bersih (bottom line). Sementara 51 perusahaan lainnya justru harus menelan pil pahit berupa penyusutan laba.
“Pertumbuhan topline belum otomatis diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba,” kata Hendra Soeprajitno, Editor-in-Chief Fortune Indonesia, (12/8/2026).
Di tengah anomali profitabilitas tersebut, dominasi industri perbankan tidak terbendung. Tiga posisi teratas pencetak laba bersih terbesar disapu bersih oleh sektor perbankan.
BCA memimpin dengan laba Rp57.537,29 miliar, ditempel sangat ketat oleh Bank Rakyat Indonesia di posisi kedua dengan Rp56.652,38 miliar, lalu disusul Bank Mandiri dengan laba Rp56.293,95 miliar.
Manuver BBRI yang sukses menembus tiga besar dari sisi pendapatan, mematahkan hegemoni kuartet Pertamina, PLN, Astra, dan BRI yang selama empat tahun terakhir selalu bertengger di posisi empat teratas.
“Perubahan tersebut menunjukkan bahwa bahkan di antara perusahaan-perusahaan dengan skala terbesar sekalipun, posisi di puncak bukanlah sesuatu yang permanen,” kata Hendra.
Keberhasilan mempertahankan laba jumbo ini memiliki korelasi langsung dengan fundamental perseroan yang terus diperkuat. Implementasi strategi transformasi BRIvolution Reignite terbukti ampuh menangkal sentimen risiko geopolitik global.
Mengacu pada paparan Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 (30/4/2026), total aset BBRI telah menggurita hingga Rp2.250 triliun, atau tumbuh 7,2 persen year-on-year (YoY). Dari sisi fungsi intermediasi, laju penyaluran kredit melesat 13,7 persen YoY menjadi Rp1.562 triliun.
Rasio profitabilitas bank pun mencatatkan rapor hijau. Return on Assets (ROA) terdongkrak naik ke level 2,8 persen, sementara Return on Equity (ROE) menguat tajam dari 17,1 persen pada kuartal pertama tahun lalu menjadi 18,4 persen di triwulan I 2026.
“Pertumbuhan ini mencerminkan kemampuan BRI dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan biaya dana yang semakin efisien. Di satu sisi, pertumbuhan kredit yang tetap kuat memberikan dorongan terhadap pendapatan bunga. Sementara di sisi lain, perbaikan struktur funding, khususnya peningkatan CASA, turut menekan cost of fund. Secara keseluruhan, BRI tidak hanya tumbuh, namun juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan,” jelas Hery Gunardi, Direktur Utama BRI.