Mengapa Haji Isam Getol Akuisisi?

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:40 WIB
Rumor mengenai rencana Haji Isam membeli sekitar 62,2% saham BYAN menjadi katalis utama pergerakan saham. Spekulasi tersebut semakin ramai setelah adanya pertemuan antara Haji Isam dan Low Tuck Kwong di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8). Desain Suara.com/AI
  • Saham BYAN dan TEBE kembali melonjak di tengah rumor akuisisi Haji Isam.
  • Kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low di BYAN mencapai sekitar 62,25%.
  • Kapitalisasi empat emiten Haji Isam baru 15,5% dari kapitalisasi pasar BYAN.

Suara.com - Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan sejumlah emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Syamsuddin Andi Arsyad alias Haji Isam kembali menjadi sorotan pasar. Lonjakan harga saham terjadi di tengah rumor rencana akuisisi sekitar 62,2% saham BYAN yang saat ini dikuasai keluarga Low Tuck Kwong.

Pada perdagangan Selasa (18/8), saham BYAN dibuka naik 7,64% ke Rp15.500 dan sempat menyentuh level Rp17.275, atau menguat 19,97% sekaligus mencapai auto rejection atas (ARA). Sebelumnya, pada Jumat (14/8), saham perusahaan batu bara tersebut juga sudah menyentuh ARA setelah naik 20% ke Rp14.400.

Kenaikan serupa terjadi pada PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), perusahaan tambang batu bara yang berada dalam kelompok usaha Haji Isam. Saham TEBE dibuka naik 9,09% ke Rp1.500 dan sempat mencapai Rp1.655, atau menguat 20,36%.

Rumor akuisisi BYAN

Rumor mengenai rencana Haji Isam membeli sekitar 62,2% saham BYAN menjadi katalis utama pergerakan saham. Spekulasi tersebut semakin ramai setelah adanya pertemuan antara Haji Isam dan Low Tuck Kwong di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8).

Jika terealisasi, transaksi tersebut akan menjadi aksi korporasi besar karena menyangkut perubahan kepemilikan pengendali salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Low Tuck Kwong menguasai sekitar 40,25% saham BYAN, sementara putrinya, Elaine Low, memiliki sekitar 22%. Jika digabungkan, kepemilikan keduanya mencapai sekitar 62,25%.

Dengan demikian, angka tersebut sejalan dengan besaran saham yang disebut-sebut dalam rumor akuisisi.

Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa transaksi tersebut akan dilakukan. Suara.com sudah mencoba menghubungi manajemen PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), salah satu perusahaan di bawah Jhonlin Group, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan ketika dimintai konfirmasi.

Saham perusahaan Haji Isam ikut terangkat

Efek rumor BYAN tidak berhenti pada saham perusahaan yang menjadi target akuisisi. Sejumlah saham yang terafiliasi dengan kelompok usaha Haji Isam juga mengalami penguatan signifikan.

Hingga pukul 09.45 WIB, saham JARR melonjak 21,39% ke Rp2.440 dan sempat menyentuh Rp2.480. Saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) juga mencapai ARA dengan kenaikan 19,93%.

Kemudian, saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) naik 4,73% ke Rp296 dan sempat menyentuh Rp320. Sementara saham PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), yang sekitar 15% sahamnya dimiliki Liana Saputri, anak Haji Isam, menguat 7,74% dan sempat naik 17,15% ke Rp560.

Pergerakan tersebut menunjukkan bagaimana rumor aksi korporasi besar dapat dengan cepat menjalar ke saham-saham yang dipersepsikan memiliki keterkaitan dengan calon pembeli.

Nilai emiten Haji Isam masih jauh di bawah BYAN

Dari sisi ukuran pasar, potensi akuisisi BYAN akan menjadi langkah yang sangat besar bagi kelompok usaha Haji Isam.

Empat emiten utama yang dikaitkan dengan Haji Isam, yakni PGUN, JARR, PACK, dan TEBE, memiliki total kapitalisasi pasar sekitar Rp74,29 triliun.

Rinciannya, PGUN sekitar Rp43,89 triliun, JARR Rp18,55 triliun, PACK Rp10,09 triliun, dan TEBE Rp1,76 triliun.

Sebagai pembanding, kapitalisasi pasar BYAN berada di kisaran Rp480 triliun. Artinya, jika digabungkan, kapitalisasi pasar empat emiten tersebut baru sekitar 15,5% dari kapitalisasi BYAN.

Dengan kata lain, apabila Haji Isam benar-benar masuk untuk mengambil alih saham mayoritas BYAN, skalanya jauh lebih besar dibandingkan aksi-aksi korporasi sebelumnya.

Jejak ekspansi mulai terlihat

Rumor BYAN juga menarik karena Haji Isam sebelumnya telah melakukan ekspansi melalui pasar modal.

Pada 13 Mei 2026, Haji Isam membeli sekitar 6,83 miliar saham PACK dengan harga Rp137 per saham. Transaksi tersebut membuatnya menguasai sekitar 21,12% hak suara di perusahaan.

Manajemen PACK ketika itu menyebut status kepemilikan tersebut sebagai kepemilikan langsung dengan tujuan investasi.

Jika rumor akuisisi BYAN benar-benar terealisasi, langkah tersebut dapat menjadi babak baru ekspansi bisnis Haji Isam, khususnya di sektor pertambangan batu bara.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com